Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dinkes Paser Tegaskan 900 Kasus ISPA pada Juli 2026 Tidak Semata Akibat Karhutla

M
Penulis: Muhammad Najib❯
Kepala Dinas Kesehatan Paser Amri Yulihardi
Kepala Dinas Kesehatan Paser Amri Yulihardi

Advertisement

KALTIMPOST.ID, TANAH GROGOT – Dinas Kesehatan (Dinkes) Paser meluruskan informasi yang tersebar mengenai lonjakan 900 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sepanjang Juli 2026 yang sempat dikaitkan langsung dengan fenomena kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Dinkes Paser Amri Yulihardi mengonfirmasi bahwa data 900 kasus ISPA yang tercatat dalam Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) tersebut memang valid. Namun, ia menegaskan bahwa seluruh kasus tersebut tidak bisa serta-merta disimpulkan akibat dampak langsung dari asap karhutla.

"ISPA secara medis disebabkan oleh banyak faktor, bukan penyakit tunggal yang hanya dipicu satu penyebab," kata Amri, Rabu (26/8/2026).

Amri menjelaskan, beberapa faktor utama pemicu ISPA di antaranya infeksi virus dan bakteri, yaitu aparan virus seperti influenza, rhinovirus, serta bakteri saluran pernapasan.

Faktor lingkungan dan alergi juga bisa, sehingga menimbulkan iritasi debu, asap rokok, polusi udara, hingga asap karhutla.

Advertisement

Faktor pendukung lain adalah perubahan cuaca, ventilasi rumah yang buruk, kepadatan hunian, serta kondisi daya tahan tubuh masyarakat.

Menurutnya, asap karhutla merupakan salah satu faktor risiko yang dapat memperberat atau memicu gejala, tetapi bukan satu-satunya penyebab utama dari total 900 kasus yang tercatat.

Berdasarkan data morbiditas Dinkes Paser, ISPA secara konsisten menempati posisi tiga besar penyakit terbanyak setiap tahunnya, bahkan jauh sebelum terjadi peningkatan aktivitas karhutla pada tahun berjalan. Pola ini menunjukkan bahwa tingginya angka ISPA merupakan karakteristik penyakit yang lazim terjadi di Paser dari tahun ke tahun.

Dinkes Paser mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang belum terverifikasi. Meski demikian, warga tetap diminta menjalankan langkah pencegahan. Yaitu memakai masker saat beraktivitas di luar rumah jika kualitas udara memburuk, membatasi aktivitas luar ruangan bagi kelompok rentan seperti balita, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit paru/jantung kronis, dan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk menjaga daya tahan tubuh.

Masyarakat segera memeriksakan diri ke puskesmas terdekat jika mengalami gejala batuk, pilek, atau sesak napas yang berkepanjangan. Dinkes Paser berkomitmen akan terus memantau perkembangan kasus ISPA secara berkala melalui platform SKDR demi memastikan respons cepat kesehatan masyarakat. (*)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Tekan Kasus HIV dan TB di Pesisir Paser, BKK Balikpapan dan Dinkes Gelar Skrining Massal

Tekan Kasus HIV dan TB di Pesisir Paser, BKK Balikpapan dan Dinkes Gelar Skrining Massal

BKK Balikpapan & Dinkes Paser sasar ratusan warga pesisir untuk skrining HIV-TB dan CKG. Dorong eliminasi penyakit menular.

Asap Karhutla Bisa Picu Bronkitis pada Anak, Benarkah Perlu Antibiotik?

Asap Karhutla Bisa Picu Bronkitis pada Anak, Benarkah Perlu Antibiotik?

Bronkitis pada anak akibat asap karhutla perlu diwaspadai. Kenali gejala dan alasan antibiotik tak boleh diberikan sembarangan.

Balita Susah Pakai Masker Saat Karhutla? Ini Solusi untuk Orang Tua Lindungi Anak dari Asap

Balita Susah Pakai Masker Saat Karhutla? Ini Solusi untuk Orang Tua Lindungi Anak dari Asap

Asap karhutla mengancam kesehatan balita. Ada langkah perlindungan yang perlu disiapkan orang tua agar anak terhindar dari bahaya asap.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer