TANJUNG REDEB – Produksi perikanan budidaya Kabupaten Berau menunjukkan tren positif. Hingga pertengahan 2026, produksi disebut telah mendekati 2.800 ton atau melampaui target tahunan pemerintah daerah yang dipatok 2.300 ton.
Capaian tersebut menjadi modal bagi Dinas Perikanan (Diskan) Berau untuk mengejar produksi hingga akhir tahun. Bahkan, pemerintah optimistis produksi 2026 dapat melampaui capaian tahun sebelumnya yang berada di kisaran 3.200 ton.
Kepala Bidang Budidaya Diskan Berau Budiono mengatakan, capaian produksi hingga pertengahan tahun menunjukkan prospek positif.
“Target kita tahun ini 2.300 ton. Tetapi melihat capaian yang sudah berjalan, kami optimistis bisa lebih dari itu,” katanya, Rabu (26/8).
Target produksi tahun ini berasal dari sejumlah sektor budidaya. Air payau menjadi penyumbang terbesar dengan sasaran sekitar 1.200 ton. Sementara budidaya air tawar, seperti nila, lele, dan patin, ditargetkan mencapai 600 ton.
Baca Juga: Asap Karhutla Picu Kenaikan Kasus ISPA di Berau, PM2,5 Tembus 1.050
Dengan demikian, budidaya air payau dan air tawar diproyeksikan menyumbang sekitar 1.800 ton. Sementara kekurangan sekitar 400 ton diharapkan berasal dari budidaya laut.
Namun, peningkatan produksi tersebut tidak sepenuhnya berjalan tanpa tantangan. Cuaca ekstrem yang terjadi belakangan turut memengaruhi aktivitas pembudidaya, terutama pada sektor air tawar.
Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kondisi lingkungan perairan yang menjadi lokasi budidaya.
Untuk menjaga produktivitas, Diskan Berau memperkuat penyuluhan dan bimbingan teknis kepada pembudidaya. Pendampingan lapangan juga ditingkatkan dengan mendorong Penyuluh Perikanan Lapangan (PPL) lebih aktif membantu penerapan teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi sekaligus produktivitas.
Pemerintah daerah juga membuka ruang kolaborasi dengan sejumlah mitra, termasuk Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan WWF dalam pengembangan teknologi tepat guna.
Selain mengejar peningkatan produksi, Diskan mendorong pengembangan budidaya nonpakan untuk memperluas pilihan usaha sekaligus mengurangi ketergantungan pembudidaya terhadap pakan.
“Budidaya nonpakan juga terus kita dorong. Ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan produksi secara umum,” ujarnya.
Potensi Laut Jadi Kekuatan Ekonomi
Pengembangan perikanan budidaya berjalan beriringan dengan upaya memperkuat sektor kelautan dan perikanan secara keseluruhan.
Wakil Bupati Berau Gamalis mengatakan sektor kelautan dan perikanan menjadi salah satu perhatian pemerintah daerah. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi kekuatan ekonomi, terlebih Berau diarahkan sebagai salah satu pusat pariwisata untuk mendukung pengembangan Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Pembangunan sektor kelautan dan perikanan menjadi salah satu perhatian penting pemerintah daerah,” katanya.
Besarnya potensi tersebut tercermin dari produksi ikan laut dan perikanan umum Berau pada 2025 yang mencapai 30.196,71 ton.
Meski demikian, nelayan masih menghadapi sejumlah kendala operasional. Salah satunya ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), yang menjadi kebutuhan utama untuk mendukung aktivitas melaut.
Dengan capaian budidaya yang telah melampaui target, pemerintah daerah kini dituntut menjaga produktivitas sekaligus memperkuat sektor kelautan sebagai salah satu penopang ekonomi Berau. (aja/kpg/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan