Lebih Inklusif, Pelatihan UMKM untuk Perempuan dan Disabilitas Beri Akses Sama Rata
Ulil Mu'Awanah• Selasa, 17 September 2024 | 19:05 WIB
Puluhan UMKM terdiri dari perempuan dan disabilitas mendapatkan pelatihan guna kesetaraan serta peningkatan kompetensi usaha. (Foto: Ulil/KP)
KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN-Pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMK) di Balikpapan semakin diberdayakan.
Berkat program pelatihan “Steps Towards Inclusive Sustainability” yang diselenggarakan oleh ID Survey bersama Alunjiva Indonesia, para perempuan dan penyandang disabilitas kini memiliki bekal yang lebih baik untuk meningkatkan keterampilan serta kapasitas usaha mereka.
Pelatihan intensif yang berlangsung selama tiga hari, 17-19 September 2024, di Royal Suite Hotel Balikpapan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis, setelah format offline tetapi dilanjutkan dengan sesi pelatihan online serta pendampingan berkelanjutan.
Peserta, yang telah melalui proses seleksi ketat, mendapatkan bimbingan dari para mentor hingga tahap akhir program, serta pendampingan one-on-one. Termasuk dari Nicky Clara, Founder Alunjiva Indonesia yang menjadi salah satu narasumber inspiratif dalam acara ini.
Arif Bijaksana PN, selaku Kepala Unit TJSL PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero), menegaskan komitmen program ini terhadap inklusi dan keberlanjutan.
“Program ini bukan hanya tentang pemberdayaan perempuan, tetapi juga mencakup penyandang disabilitas. Kami ingin menunjukkan bahwa keberagaman bukan hanya soal gender, tetapi juga tentang memberikan kesempatan yang setara kepada semua pihak,” ujar Arif, Selasa (17/9).
Arif menuturkan, kegiatan ini adalah bagian dari program besar dari ID Survey, sebagai kepanjangan tangan pihak BUMN. Merangkul seluruh elemen baik marginal, UMKM dan disabilitas. Tidak hanya di Balikpapan, program ini telah pula dilaksakan di seluruh daerah di Indonesia.
Diakui pula, jumlah peminat pelatihan sangat tinggi. Namun saat ini masih terbatas dan dilakukan kurasi.
Lebih dari 80 pendaftar dari Balikpapan dan sekitarnya mengikuti proses seleksi ketat, dan akhirnya terpilih 23 peserta untuk mengikuti pelatihan ini. Proses seleksi dilakukan melalui teknik In-depth Interview untuk memastikan bahwa peserta yang terpilih memiliki potensi dan komitmen yang kuat.
"Beberapa UMKM masih kesulitan mendapatkan akses permodalan, dari itu kami gelar pelatihan agar mereka bisa bankable untuk mendapatkan permodalan baik dari perbankan maupun entitas lainnya," sebutnya.
Dijelaskan pula, peserta pelatihan mewakili berbagai jenis usaha, termasuk industri makanan dan minuman, kerajinan dan kreatif, jasa, retail, serta pakaian. Selama pelatihan, peserta akan mempelajari modul-modul yang mencakup strategi pengembangan usaha, soft skill kewirausahaan, keberlanjutan usaha, digital marketing, dan sosial media. Para trainer, bersama tim fasilitator, akan memantau dan mengevaluasi kemajuan peserta secara menyeluruh.
Seluruh peserta pun memiliki kesempatan untuk berdiskusi secara langsung oleh para pengajar di dalam grup maupun secara langsung. Yang diharapkan dapat bersinergi dalam penciptaan ekosistem masyarakat wirausaha yang inklusif bagi seluruh kalangan, khususnya bagi perempuan dan disabilitas agar memperoleh akses kesempatan yang setara terhadap pengembangan usaha maupun pengembangan keahlian.
“Sebagai kepanjangan tangan BUMN, ID Survey berkomitmen untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Melalui program ini, kami menekankan perekonomian dan kesetaraan sebagai landasan utama untuk mencapai kesejahteraan. Kami ingin memastikan bahwa setiap individu, terlepas dari gender atau kondisi fisik, memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang," ungkapnya.
Mengenai ID Survey, ialah holding BUMN jasa survei yang terdiri dari Biro Klasifikasi Indonesia, SUCOFINDO dan Surveyor Indonesia.
Founder Alunjiva Indonesia Nicky Clara, menambahkan, program "Steps Towards Inclusive Sustainability" tidak hanya merupakan langkah awal, tetapi juga diharapkan menjadi pendorong utama bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di Indonesia. Program ini bertujuan untuk mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (TPB), khususnya dalam hal pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.
Dengan fokus pada pelaku UMKM, terutama perempuan dan penyandang disabilitas, program ini dirancang untuk menjadi platform yang inklusif dan efektif, memungkinkan peserta mengembangkan keterampilan dan kapasitas mereka sehingga produk yang dihasilkan dapat optimal.
“Program ini adalah kontribusi kami untuk menciptakan akses dan kesempatan yang setara bagi perempuan dan penyandang disabilitas di Balikpapan dan sekitarnya. Kami berharap, peserta dapat meningkatkan dan mengembangkan usaha mereka sambil belajar langsung dari para mentor profesional," kata Nicky.
Sejak berdiri pada akhir 2022, Alunjiva Indonesia telah fokus pada edukasi kesehatan mental, pemberdayaan, dan pengembangan sumber daya manusia. Dengan menggarisbawahi pentingnya literasi digital dan pengembangan UMKM, program ini bertujuan untuk mengatasi tantangan dan mengoptimalkan potensi bisnis. Inklusi menjadi kunci, memastikan bahwa setiap individu tidak hanya menjadi tulang punggung keluarga tetapi juga dapat memberdayakan ekosistem sekitarnya.
Program ini juga mencakup strategi untuk akses permodalan UMKM dalam jangka waktu enam bulan, memperkuat posisi Balikpapan sebagai gerbang menuju Ibu Kota Nusantara (IKN) dengan menghadapi perkembangan teknologi dan ekonomi terkini. Sebagaimana disampaikan pula Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Balikpapan Cokorda Ratih Kusuma, yang turut menekankan pentingnya peningkatan kompetensi UMKM.
“Sebagai penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), Balikpapan perlu memperkuat ekosistem UMKM. Kolaborasi antara pihak BUMN dan swasta sangat penting untuk meningkatkan daya saing UMKM dan memastikan mereka dapat naik kelas," ujarnya.
Dia mengatakan, kolaborasi dalam membangun ekonomi kreatif serta peningkatan kompetisi sangat penting. Apalagi jika melihat dalam peningkatan pariwisata itu tidak lepas dari UMKM yang termasuk sebagai salah satu subsektor ekonomi kreatif. Melalui itu, dinas bersama dengan Kemenparekraf juga memberikan hak kekayaan intelektual (haki) bagi 100 UMKM di Balikpapan guna memperkuat produk yang dihasilkan.
"Selain itu, kita juga ada pembinaan bagi disabilitas dari Semangat Muda Tuli (Semut) Balikpapan, yang berusia 16-30 tahun dengan melibatkan mereka dalam berbagai pameran. Di Balikpapan, sudah ada 50-100 orang yang bergabung dalam komunitas tersebut," tutupnya.(*)