KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Luas tanaman pangan padi di Kaltim terus menurun. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada 2023 hanya mencapai 57,08 ribu hektare. Angka itu menurun dibanding tahun sebelumnya yang tercatat 64,97 ribu hektare. Penurunan juga terjadi pada 2021, di mana hanya 66,8 ribu hektare.
Kutai Kartanegara menjadi kabupaten dengan luas tanaman padi tertinggi, mencapai 26,55 ribu hektare disusul Penajam Paser Utara (PPU) 12,52 ribu hektare dan Paser 6,58 ribu hektare.
“Penurunan luas panen terjadi hampir di seluruh kabupaten/kota. Meski terjadi penurunan, di sisi lain terjadi peningkatan pada produktivitas tanaman padi. Walau kenaikannya tidak terlalu signifkan, dari 36,85 persen di 2022 menjadi 37,10 persen pada 2023,” beber Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana, kemarin (15/10).
Produktivitas tertinggi di Samarinda, dengan 44,78 kuintal per hektare, lalu Paser 43,45 kuintal per hektare dan Kutai Kartanegara 43,36 kuintal per hektare. “Meski Samarinda, Balikpapan dan Bontang memilki produktivitas tinggi, namun hasil produksinya masih kalah jauh dibandingkan daerah lain yang memiliki luas panen jauh lebih besar,” lanjutnya.
Sedangkan untuk produksi padi 2023, sebanyak 226,97 ribu ton dan beras 132,02 ribu ton. Dengan Kutai Kartanegara tentu saja sebagai penghasil padi pun beras terbesar di Bumi Etam. Masing-masing catatkan angka 114,10 ribu ton untuk padi dan 66,95 ribu ton untuk beras.
Bergeser ke komoditas lain yakni kelapa sawit. Merupakan program strategis yang menjadi prioritas pembangunan ekonomi bagi Pemerintah Daerah (Pemda) yang dikenal dengan program “Sejuta Hektare Kelapa Sawit”. Program itu dicanangkan sejak 2005 sebelum pemekaran Kalimantan Utara dan tercapai setelah 2013.
Pada tahun lalu, tanaman kelapa sawit mencapai 1,33 juta hektare dengan produksi sebanyak 20,71 juta ton tandan buah segar (TBS). “Mengalami peningkatan produksi dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu luas dan produksi tanaman perkebunan lainnya pada 2023 terus alami peningkatan,” ungkap Yusniar.
Sawit masih menjadi komoditas utama perkebunan di Kaltim. Meski pada 2022, produksi TBS sempat menurun dibanding tahun sebelumnya atau 2021. Catatkan 16,94 juta ton. Sentra tanaman kelapa sawit berada di Kutai Timur. Dengan luas lebih dari sepertiga tota luas perkebunan sawit di Kalimantan Timur. Tepatnya yakni 33,98 persen. Disusul Kutai Kartanegara dengan 23,19 persen dan Paser 15,47 persen.
Yusniar menambahkan, jika pada 2021 Kaltim memiliki setidaknya 94 unit pabrik pengolahan kelapa sawit. Hasil dari pabrik-pabrik tersebut berupa minyak kelapa atau crude palm oil (CPO) yang selanjutnya akan diolah menjadi minyak goreng dan margarin. “Ada juga diolah sebagai bahan baku pada industri makanan dan minman lainnya. Bahan baku pembuatan sabun, kosmetik dan berbagai produk kimia lainnya,” tutupnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo