Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Mahasiswa ITK Ciptakan Briket Eco-Friendly dari Cangkang Kelapa Sawit, Ini Namanya

Ulil Mu'Awanah • Selasa, 29 Oktober 2024 | 11:05 WIB
INOVASI: BrisiK bisa menggantikan arang. Selain ramah lingkungan, produk ini tanpa bau dan sisa abu yang dihasilkan sangat sedikit.
INOVASI: BrisiK bisa menggantikan arang. Selain ramah lingkungan, produk ini tanpa bau dan sisa abu yang dihasilkan sangat sedikit.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Sebuah inisiatif menarik lahir dari lima mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan (ITK) yang mengusung proyek BrisiK yakni Briket Kelapa Sawit Kalimantan.

Proyek ini bertujuan memanfaatkan limbah cangkang kelapa sawit sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan. Dipimpin oleh Aslam, mahasiswa program studi teknik material dan metalurgi angkatan 2023, tim ini dibentuk pada Februari 2024.

"Biasanya briket terbuat dari batok kelapa, tetapi kami melihat potensi besar di Kalimantan sebagai penghasil kelapa sawit. Kami ingin memanfaatkan cangkang kelapa sawit," jelas Aslam saat ditemui di kampus baru-baru ini.

BrisiK bertujuan menciptakan produk briket yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Menurut Aslam, produk ini memiliki keunggulan dibandingkan briket biasa. "Briket kami lebih panas dari arang biasa, tanpa bau dan sisa abu yang dihasilkan sangat sedikit. Nyala briket ini bisa bertahan hingga 3 jam," tambahnya.

Proyek ini bukan hanya tentang menciptakan produk baru, tetapi juga berkontribusi dalam mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. "Kami ingin mengurangi emisi gas rumah kaca dan mempromosikan penggunaan sumber energi terbarukan," ucap Aslam.

Lebih lanjut, Aslam menceritakan, setelah mendapatkan pendanaan, tim memulai survei alat dan bahan yang dibutuhkan untuk produksi. Mereka mulai menjalankan produksi pada Juni 2024, meski di awal kali mencoba menghadapi beberapa kendala. Trial error kerap terjadi.

Pihaknya belum bisa menyebutkan terkait angka penjualan, tetapi dari awal produksi tim mereka sudah melakukan penjualan, penjualan itu bersumber dari pameran produk. Mereka juga sangat dibantu atas dukungan besar dari pihak kampus.

"Untuk cangkang sawitnya kami beli dari petani sawit di Sangkulirang, dengan harga Rp 5 juta untuk kurang lebih 180 kg sekali kirim," sebutnya.

Dengan alat seadanya, mereka mengandalkan energi matahari untuk mengeringkan briket tersebut setelah melalui masa proses. "Awal produksi kami tidak berjalan mulus, ada beberapa error saat pembuatan," ujar Muhammad Rafly Baihaqi mahasiswa program studi bisnis digital angkatan 2023 sebagai pic keuangan didampingi Luthfi Hakim Fadhillah yang menjadi PIC produksi dalam tim tersebut.

Saat ini, tim mampu memproduksi sekitar 20 kg briket per minggu, meskipun jumlah ini masih terbatas oleh kapasitas sumber daya manusia yang hanya terdiri dari lima orang. "Kami masih banyak mengandalkan proses manual dalam produksi, yang menjadi tantangan tersendiri," kata Jonathan Joseph Yudita Tampubolon, selaku PIC sumber daya.

Untuk memperkenalkan produk mereka, tim BrisiK fokus pada distribusi sampel kepada pelaku usaha seperti penjual sate dan rumah makan. "Kami sudah mulai melakukan penjualan meski masih dalam skala kecil, dengan sumber utama penjualan berasal dari pameran produk," ungkap Oktavia Hadi Azzizah, anggota lainnya yang juga menjadi PIC pemasaran.

Dengan semangat inovasi dan keberlanjutan, BrisiK diharapkan dapat menjadi solusi bagi masalah limbah dan kebutuhan energi di Kalimantan, sekaligus membuka peluang bisnis baru bagi generasi muda. Sebungkus BrisiK bisa dibeli hanya dengan harga Rp 20 ribu. Dengan per bungkus berisikan 50 cube. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#cangkang sawit #briket #berkelanjutan #BRISIK #ITK #mahasiswa