Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Komoditas Pangan dan Jasa Kerek Inflasi di Kaltim pada Oktober 2024

Raden Roro Mira Budi Asih • Sabtu, 2 November 2024 | 09:05 WIB
TEKANAN: Kenaikan harga pada komoditas pangan seperti beras, ikan, daging, serta berbagai jenis sayuran dan buah-buahan menyebabkan inflasi di Kaltim pada Oktober lalu.
TEKANAN: Kenaikan harga pada komoditas pangan seperti beras, ikan, daging, serta berbagai jenis sayuran dan buah-buahan menyebabkan inflasi di Kaltim pada Oktober lalu.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat adanya lonjakan inflasi pada Oktober 2024. Secara tahunan atau year on year (yoy), inflasi mencapai 1,75 persen. Atau terjadi kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 104,69 pada Oktober 2023 menjadi 106,52 pada Oktober 2024. Namun secara month to month (mtm) terjadi deflasi 0,16 persen. Sedangkan secara year to date (ytd) inflasi tercatat 1,08 persen.

Kenaikan IHK terutama didorong oleh lonjakan harga pada sejumlah komoditas pangan dan jasa. Utamanya terjadi pada harga beras, ikan, daging, serta berbagai jenis sayuran dan buah-buahan. Selain itu, kenaikan harga pada kelompok jasa seperti kesehatan, pendidikan, dan transportasi juga memberikan kontribusi.

"Terjadi kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran. Yaitu makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,38 persen. Pakaian dan alas kaki sebesar 2,41 persen. Lalu perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 0,52 persen,” beber Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana, Jumat (1/11).

Tak hanya itu, terjadi kenaikan pula pada kelompok kesehatan 5,32 persen, rekreasi, olahraga dan budaya 1,35 persen. Kemudian pendidikan 1,71 persen, penyediaan makanan dan minuman (restoran) 1,90 persen, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 5,92 persen.

Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga signifikan dan memberikan kontribusi terhadap inflasi antara lain pangan yakni beras, ikan (layang, tongkol, kembung), daging ayam, telur ayam ras, cabai rawit, bawang merah, minyak goreng. Lalu jasa yakni tarif rumah sakit, biaya sekolah, tarif angkutan udara, dan biaya perawatan pribadi.

"Sebaliknya, kelompok pengeluaran yang memberi andil atau sumbangan deflasi yoy yaitu transportasi 0,14 persen, serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,03 persen. Sementara kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga memberi andil sumbangan tidak signifikan terhadap inflasi yoy Kaltim," lanjut Yusniar.

Beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga atau deflasi. Komoditas seperti sayuran segar (kangkung, bayam, sawi), buah-buahan (semangka, melon), serta beberapa jenis bahan bakar minyak memberikan kontribusi pada penurunan inflasi.

Secara umum, seluruh kabupaten/kota di Kaltim yang menjadi cakupan survei mengalami inflasi. Berau mencatat inflasi tertinggi sebesar 3,54 persen dengan IHK 107,32, sementara Penajam Paser Utara memiliki inflasi terendah sebesar 0,85 persen dengan IHK 105,86.

Kenaikan inflasi dapat berdampak pada daya beli masyarakat, terutama bagi kelompok masyarakat berpendapatan rendah. Pemerintah dinilai perlu mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan inflasi, misalnya melalui stabilisasi harga pangan, meningkatkan produksi pangan dalam negeri, serta memberikan bantuan sosial kepada masyarakat yang terdampak. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#kaltim #komoditas pangan #oktober #inflasi