Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Menilik Potensi Ekspor Peserta TEI dari Kaltim: Indah Purnamasari Diremehkan Jual Jamu, Kini Penuhi Permintaan Buyer Korea Selatan

Raden Roro Mira Budi Asih • Senin, 18 November 2024 | 09:05 WIB
GLOBAL: Indah membawa minuman tradisional jamu naik kelas. Dia berhasil menjalin kerjasama dengan buyer potensial asal Negeri Ginseng.
GLOBAL: Indah membawa minuman tradisional jamu naik kelas. Dia berhasil menjalin kerjasama dengan buyer potensial asal Negeri Ginseng.

KALTIMPOST.ID, BONTANG - Bisnis yang bermula dari dapur kos-kosan, sekarang menembus pasar internasional. Niat hati hanya untuk tambahan biaya kuliah, malah membuka lapangan pekerjaan. Dapur Jamu Ibu pun menjadi market leader minuman rempah di Kota Taman.

Saat mengambil pasca sarjana di Universitas Mulawarman (Unmul) pada 2018 lalu, Indah berpikir untuk mencari biaya tambahan. Tak ingin membebani orangtua, namun masih bingung apa usaha yang dipilih. Suatu ketika, sang ibu memberi sangu jamu saat dia kembali ke Samarinda. Ternyata cocok di lidah teman-teman kos Indah yang cicipi jamu tersebut.

"Mereka pada pesan, dari situ belum ada niat. Ternyata malah jadi peluang. Jadi setiap saya pulang ke Bontang, mereka pada pesan. Terus juga dikirim pakai bis. Tapi cuma bertahan 6 bulan saja yang jamu buatan ibu, soalnya jadwal bis enggak tentu. Akhirnya produksi sendiri di dapur kos," paparnya.

Sambil menyelam minum air. Sambil kuliah, Indah berbisnis. Dengan sengaja menaruh jamu di meja dosen. Responsnya pun juga bagus. Jamu buatan indah semakin dikenal. "Bahkan tas isi jualan lebih besar dibanding tas untuk kuliah," ungkapnya lalu terkekeh.

Keseriusan meniti usaha jamu juga dibuktikan dengan mengikuti kursus. Selain resep dari sang ibu, dia juga perkaya pengetahuan dan kemampuannya mengolah minuman tradisional lewat belajar dengan ahlinya.

Melihat potensi yang besar, Indah beranikan diri coba pasar lebih luas. Dia kemas jamu ke dalam botol. Lalu dia coba tawarkan di salah satu mal. "Pas jualan itu malah diketawain. Kok jamu dijual di botol. Ya orang masih belum tahu, bawa 60 botol cuma laku 2 botol. Ya namanya juga merintis, proses," lanjutnya.

Kala itu ada empat varian jamu yang diolah. Beras kencur, jahe merah, kunyit asam dan kunyit sirih. Masuk pandemi, produknya semakin laris. Segala minuman herbal banyak dicari. Indah masuk ke dalam zona nyaman. Nama usahanya semakin naik daun. Hingga pada 2022, Indah menyadari terjadi penurunan penjualan.

"Coba inovasi, bagaimana supaya bisa terus bertahan jamu ini. Jadi buat varian lebih banyak, sekarang ada 18 varian. Termasuk ada versi serbuk atau siap seduh, jahe merah, jahe merah rumput laut sama kunyit asem. Itu juga permintaan dari pembeli pas zaman pandemi," jelas perempuan kelahiran 1996 itu.

Mulanya untuk versi serbuk dia buat manual. Namun butuh tenaga lebih ekstra. Dia pun coba membeli mesin. Tapi karena terkendala ketidaktahuan cara mengolah, membuat mesin tersebut menganggur satu tahun.

"Di sisi lain, pandemi kan sudah reda. Ibaratnya keburu selesai momen untuk pasarkan minuman yang serbuk. Jadi coba pasarkan titip ke toko-toko. Terus pernah dibawa sama teman yang kerja di Taiwan, belum dua minggu dibawa sudah habis 30 pcs. Ternyata permintaan tinggi, dari situ peluang ekspor dicoba," jelasnya.

Dia juga mengikuti Export Kaltimpreneurs garapan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim. Dari sana semakin terbuka peluang jamu lokal untuk masuk pasar global. Berbagai business matching diikuti, hingga berhasil kirim sampel ke berbagai negara mulai India hingga Swiss.

Pada Trade Expo Indonesia (TEI) Oktober lalu, banyak potensial buyer yang tertarik dengan herbal. Oman, Pakistan, Malaysia, Singapura dan Korea Selatan. Saking tingginya antusias, Indah yang hanya bawa kurang dari 100 pcs jahe merah serbuk langsung ludes.

"Jadi sisa yang untuk display. Banyak buyer yang kecewa enggak bisa rasain. Soalnya kan saya mikirnya hanya pameran, makanya enggak bawa banyak. Ternyata antusias buyer itu tinggi," jelasnya.

Dari sana, terjalin kerjasama dengan dua perusahaan asal Korea Selatan. "Buat memorandum of understanding (MoU), nilai transaksinya dalam setahun itu sekitar Rp 1,5 miliar. Jadi bakal rutin kirim tiap bulan. Dan nilai transaksinya bisa saja nambah seiring dengan kondisi pasar di sana," sebut Indah.

Dia tak menyangka, jamu yang semula diremehkan malah mendatangkan rezeki tak terduga. Penjualannya 90 persen online dengan pasar terbesar di Bontang, titip di beberapa swalayan lokal. "Di Samarinda juga ada. Sekarang juga jalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan, untuk mengisi snack box mereka. Usaha tidak mengkhianati hasil lah. Alhamdulillah juga jadi market leader untuk minuman rempah di Bontang," bebernya.

Dengan potensi ekspor yang semakin terbuka lebar, juga turut menggerakkan perekonomian lokal. Sebab, sebagian bahan baku dia ambil dari petani di Bontang. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#ekspor umkm #Ekspor Kaltim #jamu bahan kimia obat #potensi ekspor kaltim #jamu #jamu warisan budaya dan pengalaman empiris