KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Perekonomian Kaltim memiliki karakteristik unik. Berbeda dengan perekonomian nasional yang lebih banyak disumbang oleh konsumsi rumah tangga, ekonomi Bumi Etam justru ditopang ekspor barang dan jasa. Utamanya komoditas sumber daya alam (SDA).
Pada medio 2019, nilai ekspor barang dan jasa luar negeri Kaltim tercatat sebesar Rp 260,46 triliun. Puncaknya terjadi pada 2022 dengan menyentuh level Rp 578,62 triliun. Namun, perlambatan ekonomi global dan penurunan harga komoditas unggulan mengakibatkan penurunan ekspor pada 2023 yang hanya Rp 441,47 triliun. Kendati turun memiliki kontribusi 52,33 persen terhadap total perekonomian daerah.
Jika dilihat dari laju pertumbuhannya, ekspor barang dan jasa luar negeri pada 2023 tumbuh 6,08 persen. Mengalami perlambatan jika dibandingkan 2022 yang mampu tumbuh hingga 7,85 persen. Laju pertumbuhan perekonomian Kaltim sejak 2022-2023 alami percepatan, sedangkan laju pertumbuhan ekspor barang dan jasa luar negeri mengalami perlambatan.
“Kondisi ini disebabkan adanya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Mendorong pertumbuhan yang cukup signifikan pada komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dan juga pengeluaran pemerintah,” beber Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Yusniar Juliana, Selasa (26/11).
Sejak pembangunan IKN pada akhir 2022, kontribusi ekspor barang dan jasa luar negeri menurun dari 62,79 persen menjadi 52,33 persen. Penurunan ini juga dipengaruhi oleh harga komoditas ekspor seperti migas dan batu bara yang mengalami penurunan. Menariknya, kontribusi ekspor pada 2013 pernah mencapai 71,63 persen.
“Seiring dengan berjalannya waktu, kontribusi komponen ekspor barang dan jasa luar negeri mengalami fluktuasi dan cenderung mengalami penurunan selama sepuluh tahun terakhir,” lanjut Yusniar.
Sama halnya dengan ekspor Indonesia, ekspor Kaltim juga didominasi oleh ekspor nonmigas. Menjadi penopang utama dengan kontribusi 89,96 persen pada 2023, meningkat drastis dari 63,31 persen pada 2015. Komoditas seperti batubara, pupuk, minyak kelapa sawit, dan kimia dasar organik mendominasi ekspor nonmigas, dengan batubara menyumbang 82,42 persen dari total ekspor nonmigas.
“Pergeseran ini menandakan adanya diversifikasi ekonomi yang lebih besar dan pengurangan ketergantungan pada sektor migas yang rentan terhadap fluktuasi harga global,” ungkapnya.
Secara khusus, nilai ekspor sektor pertanian meningkat signifikan sebesar 121,85 persen pada 2023 atau senilai USD 21.842,47 ribu dibanding 2022. Kenaikan nilai ekspor sektor pertanian ini terutama disebabkan meningkatnya ekspor komoditas ikan segar atau dingin hasil tangkap dan kepiting.
“Masing-masing naik sebesar 375,68 persen dan 269,24 persen. Melihat adanya peluang peningkatan kontribusi sektor pertanian pada ekspor nonmigas Kaltim, maka perlu dilakukan identifikasi komoditas-komoditas yang dapat dikembangkan menjadi komoditas potensial ekspor serta peluang dan tantangannya,” tutup Yusniar. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo