Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Cuaca Ekstrem Pengaruhi Inflasi, Transaksi QRIS di Balikpapan Alami Kenaikan

Ulil Mu'Awanah • Jumat, 6 Desember 2024 | 17:49 WIB
PASOKAN TERGANGGU: Kelompok makanan masih menjadi penyumbang andil inflasi tertinggi di Kaltim. Terutama, komoditas tomat dan bawang merah.
PASOKAN TERGANGGU: Kelompok makanan masih menjadi penyumbang andil inflasi tertinggi di Kaltim. Terutama, komoditas tomat dan bawang merah.

BALIKPAPAN - Walaupun angka inflasi November 2024 ini cukup rendah yakni 0,10 persen (month-to-month/mtm), namun secara tahunan, inflasi Balikpapan tercatat 1,19 persen (year-on-year/yoy). Yang berada di bawah rata-rata nasional, atau tercatat sebesar 1,55 persen (yoy). Inflasi kota ini juga lebih rendah dibandingkan dengan inflasi gabungan empat kota besar di Kaltim sebesar 1,54 persen (yoy).

Terkait inflasi tersebut, ada beberapa komoditas yang menyumbang inflasi tertinggi. Seperti bawang merah, kopi bubuk, angkutan udara, tomat, dan emas perhiasan menjadi penyumbang utama inflasi pada bulan tersebut.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan Robi Ariadi mengatakan, salah satu faktor utama yang menyebabkan kenaikan harga bawang merah dan tomat adalah penurunan pasokan dari daerah penghasil yang dipengaruhi oleh curah hujan tinggi.

“Kenaikan harga bawang merah dan tomat sebagian besar disebabkan oleh cuaca ekstrem yang menyebabkan gangguan pasokan dari wilayah penghasil. Hal ini menjadi faktor utama yang mempengaruhi inflasi di Balikpapan pada bulan November,” jelas Robi.

Selain itu, kenaikan harga kopi bubuk dipengaruhi oleh kenaikan harga dari distributor, sementara harga emas perhiasan ikut meningkat seiring dengan naiknya harga emas global, yang merupakan salah satu aset yang cenderung dicari oleh masyarakat sebagai tempat berlindung dari ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. Kenaikan harga angkutan udara juga berkontribusi pada inflasi di Balikpapan.

"Apalagi dengan meningkatnya permintaan transportasi udara menjelang liburan akhir tahun, khususnya selama periode Hari Besar Keagamaan dan Nasional (HBKN) serta Natal dan tahun baru (Nataru), yang mendorong mobilisasi masyarakat," ucapnya.

Namun, di sisi lain, terdapat beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga, seperti beras, ikan layang, kangkung, ikan kakap merah, dan ikan kembung. Penurunan harga beras dan kangkung terutama disebabkan oleh peningkatan pasokan dari petani lokal. Sementara itu, harga ikan layang, ikan kakap merah, dan ikan kembung turun seiring dengan meningkatnya hasil tangkapan nelayan.

Robi juga menekankan pentingnya sinergi antara berbagai pihak dalam pengendalian inflasi daerah. Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Balikpapan, bersama dengan BI telah melakukan berbagai langkah strategis untuk memastikan inflasi tetap terjaga.

Menurut Robi, sinergi ini mencakup kolaborasi dengan instansi pemerintah daerah dan sektor swasta, termasuk dalam hal distribusi pangan dan pengawasan harga. “Kerja sama antara TPID, Pemerintah Daerah, dan Bank Indonesia sangat penting dalam menjaga kestabilan harga dan memastikan kebutuhan masyarakat tetap terjamin. Kami terus bekerja keras untuk mengantisipasi potensi lonjakan harga yang dapat mempengaruhi daya beli masyarakat,” ujar Robi.

Dilanjutkan lagi, meski ada kenaikan harga pada beberapa komoditas, daya beli masyarakat di Balikpapan terlihat tetap stabil. Hasil survei konsumen yang dilakukan oleh BI Balikpapan pada November 2024 menunjukkan adanya optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi.

Meskipun, sedikit melambat dibandingkan bulan sebelumnya, keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini (Indeks Keyakinan Ekonomi/IKE) dan ekspektasi kondisi ekonomi ke depan (Indeks Ekspektasi Ekonomi/IEK) tetap berada pada level yang optimis.

“Secara keseluruhan, meski ada sedikit penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, masyarakat Balikpapan tetap memiliki optimisme yang tinggi terhadap perekonomian, baik untuk saat ini maupun di masa depan. Ini mencerminkan bahwa daya beli masyarakat tetap terjaga,” ungkap Robi.

Meski inflasi di Balikpapan tetap terjaga pada level yang relatif stabil, Robi mengingatkan agar kewaspadaan tetap dijaga, terutama menjelang periode HBKN Nataru. Dengan curah hujan yang cukup tinggi, potensi gangguan pada pasokan pangan, seperti cabai rawit dan bayam, dapat mempengaruhi kestabilan harga di pasar.

“Pada periode HBKN Nataru, permintaan pangan akan meningkat, dan curah hujan yang cukup tinggi berpotensi mengganggu pasokan beberapa komoditas. Kami dan TPID akan terus berkoordinasi untuk mengantisipasi gejolak harga dan menjaga inflasi tetap terkendali,” tambah Robi.

Untuk itu, BI Balikpapan bersama pemda dan TPID Balikpapan, PPU dan Paser akan terus memperkuat kerja sama antar daerah (KAD) dan meningkatkan efektivitas operasi pasar, gelar pangan murah, serta gerakan tanam cabai dan hortikultura guna menjaga stabilitas harga.

“Upaya-upaya tersebut akan terus dilakukan untuk mengantisipasi potensi lonjakan harga di periode mendatang dan memastikan inflasi tetap berada dalam target yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia, yakni 2,5 persen ± 1 persen pada tahun 2024 dan 2025,” timpal Robi.

Selain itu, data transaksi melalui sistem pembayaran digital QRIS di Balikpapan juga menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan. Pada bulan Oktober 2024, transaksi QRIS di Balikpapan tercatat meningkat sebesar 9,18 persen (mtm). Sementara di PPU tercatat meningkat sebesar 9,22 persen (mtm) dibandingkan periode sebelumnya.

"Ini juga menunjukkan bahwa masyarakat semakin memanfaatkan teknologi untuk melakukan transaksi, yang juga menjadi indikator positif bagi perekonomian daerah," pungkasnya. (rdh)

 

Ulil Mu'awanah

Editor : Muhammad Ridhuan
#cuaca ekstrem #qris #inflasi #balikpapan