KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Realisasi inflasi di Kaltim pada triwulan III 2024 lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Hal ini didorong oleh penurunan laju inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta deflasi pada kelompok transportasi.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Budi Widihartanto mengatakan, terkendalinya harga pada kelompok makanan dan minuman didorong oleh melimpahnya pasokan komoditas pangan akibat panen raya di daerah sentra produksi. Sehingga menyebabkan perlambatan laju inflasi kelompok makanan, minuman dan tembakau yang memiliki andil terbesar pada inflasi Bumi Etam.
"Inflasi pada periode laporan tercatat sebesar 2,16 persen year on year (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 2,99 persen yoy. Namun lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi nasional yang sebesar 1,84 persen yoy," ungkapnya akhir pekan lalu.
Penurunan ini disebutkan Budi sejalan dengan tren penurunan inflasi di seluruh wilayah Kalimantan akibat penurunan harga komoditas pangan. Inflasi terendah hingga tertinggi provinsi di regional Kalimantan pada periode laporan secara berturut-turut terjadi pada Kalimantan Tengah 1,45 persen yoy, Kalimantan Utara 1,74 persen yoy, Kalimantan Barat 1,79 persen yoy serta Kalimantan Selatan 1,99 persen yoy.
Meskipun mengalami penurunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang inflasi terbesar di Kaltim. Hal ini disebabkan oleh kenaikan harga beras dan sigaret kretek mesin (SKM). Namun, penurunan harga komoditas seperti tomat, bawang merah dan daging ayam ras akibat panen raya berhasil meredam laju inflasi pada kelompok ini.
"Kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memiliki andil terbesar pada inflasi Kaltim. Pada periode laporan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat memiliki laju inflasi sebesar 4,67 persen yoy dengan andil inflasi yang masih relatif tinggi dibandingkan dengan kelompok lainnya," lanjut Budi.
Kelompok transportasi turut berkontribusi dalam penurunan inflasi umum, yakni sebesar 0,40 persen yoy. Angkutan udara dan bensin turut mengalami penurunan harga dan menjadi penyebab deflasi kelompok transportasi.
"Angkutan udara mengalami deflasi akibat penurunan tarif maskapai udara sejalan dengan penambahan jumlah penerbangan ke wilayah Kaltim, khususnya menjelang pelaksanaan upacara HUT ke-79 RI. Selain itu, komoditas bensin juga mengalami deflasi akibat penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) oleh Pertamina pada 1 September 2024," bebernya.
Sebaliknya, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami kenaikan inflasi akibat kenaikan harga emas perhiasan dan tarif rumah sakit. Secara spasial, inflasi tertinggi di Kaltim terjadi di Berau dengan laju 3,34 persen yoy, diikuti Balikpapan 2,31 persen yoy dan Samarinda 1,79 persen yoy. Sementara itu, inflasi terendah tercatat di Kabupaten Penajam Paser Utara dengan 1,73 persen yoy.
Budi memperkirakan bahwa inflasi pada triwulan mendatang akan tetap terkendali. Namun, pihaknya tetap mewaspadai potensi kenaikan harga komoditas pangan menjelang akhir tahun. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo