Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Serapan Tenaga Kerja di Kaltim Belum Maksimal, Banyak Diserap Sektor Padat Modal

Raden Roro Mira Budi Asih • Selasa, 14 Januari 2025 | 08:05 WIB
ANGKATAN KERJA: Tingkat partisipasi angkatan kerja Kaltim masih tergolong rendah dibandingkan provinsi lain se-Kalimantan. Sebab penyerapan tenaga kerja lebih banyak didorong sektor padat modal. 
ANGKATAN KERJA: Tingkat partisipasi angkatan kerja Kaltim masih tergolong rendah dibandingkan provinsi lain se-Kalimantan. Sebab penyerapan tenaga kerja lebih banyak didorong sektor padat modal. 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kinerja ekonomi Kaltim yang positif turut dipengaruhi kondisi ketenagakerjaan yang membaik. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kaltim pada Agustus 2024 berhasil ditekan ke level 5,14 persen, sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 5,31 persen.

Penurunan TPT ini didorong oleh pertumbuhan jumlah angkatan kerja yang lebih tinggi dibandingkan jumlah angkatan kerja menganggur. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh proyek-proyek besar seperti pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), Refinery Development Master Plan (RDMP) dan berbagai proyek infrastruktur lainnya.

“Jumlah angkatan kerja menganggur tumbuh 3,34 persen year on year (yoy). Sedangkan angkatan kerja yang aktif bekerja tumbuh lebih tinggi yaitu 6,99 persen yoy. Namun demikian, jika dibandingkan dengan provinsi lain di Kalimantan, TPT Kaltim merupakan yang tertinggi,” beber Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Budi Widihartanto, Senin (13/1).

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Kaltim pada Agustus 2024 tumbuh 67,07 persen. Lebih tinggi dibandingkan TPAK 2023 yakni 65,57 persen. Jika dilihat berdasarkan lapangan usaha (LU), sektor konstruksi menjadi sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja, mengalami peningkatan sebesar 24,51 persen (yoy).

Hal ini sejalan dengan masifnya pembangunan IKN dan proyek-proyek infrastruktur lainnya. Sektor transportasi dan pergudangan, serta industri pengolahan juga turut berkontribusi dalam menyerap tenaga kerja. Yakni masing-masing 11,99 persen yoy dan 11,60 persen yoy.

“Namun demikian, TPAK Kaltim merupakan yang terendah di antara provinsi lainnya di wilayah Kalimantan. Hal ini mengindikasikan bahwa penyerapan tenaga kerja di Kaltim lebih banyak didorong oleh sektor yang padat modal sehingga penyerapan tenaga kerja menjadi kurang optimal,” lanjut Budi.

Selain peningkatan jumlah penyerapan tenaga kerja, kualitas pekerjaan di Kaltim juga mengalami perbaikan. Proporsi tenaga kerja formal semakin meningkat, mencapai 57,68 persen. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat Kaltim yang mendapatkan pekerjaan dengan perlindungan sosial dan kesejahteraan yang lebih baik.

Meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat 42,32 persen. Jumlah pekerja di sektor formal juga meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 55,33 persen. Sejalan dengan peningkatan pekerja di sektor perdagangan, jasa perusahaan, pertambangan, industri pengolahan dan konstruksi yang tersebar di berbagai proyek pembangunan infrastruktur Kaltim.

“Selain itu, peningkatan serapan tenaga kerja formal juga tercermin dari peningkatan jumlah pekerja yang berusaha dibantu buruk tetap sebesar 25,32 persen yoy. Jika dibandingkan dengan provinsi lain di Kalimantan, proporsi pekerja formal di Kaltim merupakan yang tertinggi,” beber Budi.

Tingginya pangsa tenaga kerja yang berstatus sebagai karyawan mencapai 53,86 persen juga turut terindikasi sebagai penyebab lebih tingginya proporsi pekerja formal terhadap pekerja informal di Kaltim, dibandingkan dengan provinsi lainnya di Kalimantan.

Meskipun terjadi perbaikan, masih ada beberapa tantangan yang perlu diatasi. TPAK Kaltim masih tergolong rendah dibandingkan provinsi lain di Kalimantan. Hal ini mengindikasikan bahwa masih banyak potensi tenaga kerja yang belum terserap.

Pemerintah perlu terus mendorong pertumbuhan sektor-sektor unggulan seperti pariwisata, pertanian, dan perikanan untuk menciptakan lapangan kerja baru. Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan pendidikan vokasi juga sangat penting untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang berkualitas. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Serapan Tenaga Kerja Lokal #pekerja tambang #serapan tenaga kerja #serapan tenaga kerja di indonesia