Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Mereka yang Ulet Olah Produk Perikanan: Jadi Pelopor Olahan Ikan, Sri Astuti Wijaya Aktif Sebarkan Ilmu Mengenai Pangan Lokal

Raden Roro Mira Budi Asih • Kamis, 23 Januari 2025 | 15:15 WIB

Tuty (tengah) juga aktif memberi pelatihan untuk pengolahan pangan lokal. Mendorong dan memberdayakan ibu-ibu rumah tangga agar bisa meningkatkan ekonominya. (RORO/KP)
Tuty (tengah) juga aktif memberi pelatihan untuk pengolahan pangan lokal. Mendorong dan memberdayakan ibu-ibu rumah tangga agar bisa meningkatkan ekonominya. (RORO/KP)

Kemampuan dalam mengolah berbagai macam bahan pangan mengantarkannya menggeluti bisnis kuliner sejak puluhan tahun silam. Jatuh bangun adalah teman. Perjalanan usaha yang membuatnya meraih berbagai penghargaan.

RADEN RORO MIRA, Balikpapan

Perempuan yang akrab disapa Tuty itu menjadi saksi, bagaimana kerusuhan 1998 di Jakarta terjadi. Usaha wingko babat yang sudah ditekuni bahkan memiliki enam cabang harus disudahi. Coba bertahan, namun kenyataan membuatnya harus kembali ke Balikpapan.

“Suami lebih dulu pulang ke Balikpapan, saya menyusul sekitar 1,5 tahun kemudian. Sekitar tahun 2001. Saya coba melamar pekerjaan di sana-sini, tidak ada yang cocok. Jadi coba kembali memanfaatkan potensi saya dengan produksi kue. Coba bikin kue kering,” ujarnya.

Dia fokus pada produksi kue kering dan makanan ringan untuk momen-momen spesial seperti Lebaran. Bahkan kembali membuat wingko babat untuk dititip di warung-warung. Merambah ke aneka kudapan manis seperti roti, donat dan lainnya. Dia benar-benar memaksimalkan kemampuan yang dipunya.

Bahkan juga menerima orderan masakan untuk hajatan. “Di situ orang mulai kenal, berkembang dan makin banyak pelanggan. Tapi seiring waktu, ada momen dimana bahan baku naik. Saya coba naikkan harga ternyata enggak laku, dari situ mulai putar otak,” paparnya.

Baca Juga: Mereka yang Ulet Olah Produk Perikanan: Gilang Ma’ruf Fauji, Dari Sekadar Bantu Nelayan Kepiting, Kini Jadi Ikon Oleh-Oleh Balikpapan

Dia pun menyadari potensi besar dari olahan ikan yang melimpah di Kota Beriman. Hingga pada 2010, dia memilih berhenti untuk mengolah makanan manis. Memutuskan membuat berbagai olahan ikan, utamanya kerupuk.

Kala itu, belum banyak pesaing. Selain itu, mengolah turunan ikan tak harus setiap hari. Olahan pempek hingga tekwan, bisa menjadi frozen food. Apalagi kerupuk, setelah dijemur memiliki masa simpan lama.

“Pempek juga belum banyak yang bikin. Alhamdulillah pempek kami banyak pelanggannya. Jadi ya bisa dibilang rezekinya di ikan, alhamdulillah,” lanjut perempuan kelahiran 1969 itu.

Baca Juga: Perhotelan Wajib Beli Produk UMKM, Masuk Harga Kamar, Akmal: Jika Menolak, Pemda Jangan Berkegiatan di Hotel Tersebut

Pada 2014, semakin berkembang dengan mengolah amplang. Lanjut mengurus semua legalitas usaha. Kini, banyak produk yang dinaungi oleh PT Ray Putra Borneo dengan mereka BDS Snack. Ada cerita menarik dari penamaan tersebut.

Tuty menyebut jika memang mulanya tinggal di Bukit Damai Sentosa (BDS) Balikpapan. Namun seiring waktu, sejalan dengan konsepnya untuk turut memberdayakan sekitar, nama tersebut juga kepanjangan dari Berdayakan Daerah Sekitar (BDS).

Sebab, dia bekerjasama dengan nelayan daerah sekitar tempat usaha. Yakni di daerah Teritip, selain itu juga mengambil bahan baku dari Manggar, utamanya adalah daerah Balikpapan Timur.

Usaha yang fokus di sektor perikanan ini berdiri pada Agustus, 14 tahun silam. Berbagai olahan dibuat mulai aneka amplang berbagai jenis ikan, kerupuk ikan, hingga pempek dan tekwan. (RORO/KP)
Usaha yang fokus di sektor perikanan ini berdiri pada Agustus, 14 tahun silam. Berbagai olahan dibuat mulai aneka amplang berbagai jenis ikan, kerupuk ikan, hingga pempek dan tekwan. (RORO/KP)

“Jadi nelayan yang datang, menawarkan. Misal mereka ada tangkapan ikan parang-parang, tawarkan ke saya. Coba saya beli 10 kilogram dan buat jadi abon, ternyata cocok. Jadi saya enggak pernah beli bahan baku itu di pasar, nelayan yang datang, atau saya yang ke nelayan,” ungkap dia.

Kondisi perairan Kaltim yang melimpah dengan bahan baku membuatnya tak khawatir. Dia juga turut mengurus sertifikat kelayakan pengolahan (SKP) khusus pangan sektor perikanan. “Ada sosialisasi SKP dan langsung urus. Bahkan SKP BDS Snack itu yang pertama kali keluar di Balikpapan, saya juga urus ISO 9001:2008, dan itu juga yang pertama keluar di Balikpapan,” sebutnya.

Berkat keuletan dan semangatnya, BDS Snack, perusahaan yang dirincinya, kini telah menjadi salah satu pelopor olahan pangan di Balikpapan. Hal itu juga dibuktikan lewat penganugerahan Pelopor Pelaku Usaha Olahan Pangan Lokal oleh pemerintah provinsi awal Januari lalu.

Produk-produk tidak hanya dipasarkan di pasar lokal, tetapi juga telah menembus pasar modern di seluruh Indonesia. Bahkan, Tuty memiliki ambisi untuk menembus pasar ekspor. Sudah melakukan pengiriman sampel ke Abu Dhabi.

"Meski kami masih industri kecil, dari awal memang melengkapi semua berkas usaha. Ya SKP GMP, penginnya ini juga ke arah manajemen pangan yaitu Hazard Analisys and Critical Control Point (HACCP). Arahnya memang supaya bisa besar usaha ini,” lanjut Tuty.

Meski begitu, dia juga membuka banyak peluang. Bagi perusahaan yang misal ingin undername. Sebab, dia juga melayani pesanan repacking. Tuty tak masalah jika orang membeli dalam jumlah besar dan mengganti merek. “Yang penting harganya cocok,” tukasnya.

Dia juga tak pelit ilmu. Langganan untuk didapuk jadi narasumber pelatihan pengolahan pangan lokal. Ada harapan besar untuk bisa menyediakan lapangan pekerjaan lebih luas lewat usahanya. “Saat ini dibantu 14 karyawan. Harapannya bisa semakin besar dan lebih banyak memberdayakan sekitar,” tutupnya. (bersambung)

Editor : Muhammad Rizki
#Amplang #Amplang Balikpapan #Olahan Ikan