KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Berawal dari ikan nila pemberian tetangga, Anjar rutin memproduksi belasan kilogram abon berbahan dasar ikan. Peluang terbuka lebar. Pasar semakin luas, belasan toko oleh-oleh memanjang produknya.
Memilih usaha sudah dilakukan Anjar sejak 2009. Mulanya saat gaji sang suami yang bekerja di pabrik kertas di Berau tidak dibayarkan. Dia menangkap sinyal-sinyal kurang baik. Sehingga Anjar harus mencari sumber pendapatan lain yang sebelumnya bergantung penuh dari gaji suami.
"Coba untuk jualan peyek sama bakpia. Karena saya tinggal di Mangkajang, jadi jualnya dibawa ke Tanjung Redeb karena di sana yang ada pasarnya. Tapi jualan peyek sama bakpia itu enggak lama. Kan dalam perjalanan namanya naik motor, sampai di Tanjung Redeb sudah hancur, jadi enggak bisa dijual," jelasnya lalu terkekeh pelan.
Suatu ketika, tetangganya yang seorang pedagang ikan memberi Anjar ikan nila yang kecil-kecil. Dia berpikir untuk diolah menjadi apa selain digoreng begitu saja. "Sekitar 2010-2011, lupa juga. Karena ikannya kecil-kecil, coba dibuat jadi abon. Percobaan pertama langsung berhasil, dan lihat peluang untuk coba dijual," terangnya.
Dirinya yang masih tinggal di Mangkajang, juga tidak ada pilihan selain menjajakannya ke Tanjung Redeb. Kondisi itu berlangsung hingga 2013. Saat pabrik kertas tempat kerja suami semakin tidak baik-baik saja.
"Pindah ke Tanjung Redeb dan alhamdulillah pemasaran makin luas. Sebelum pindah, turun ke Tanjung Redeb itu sebulan dua kali. Jadi kalau abon habis, enggak bisa langsung stok. Karena sudah pindah, jadi bisa langsung isi produk," lanjutnya.
Pasarnya adalah toko-toko besar dan toko oleh-oleh. Suaminya pun fokus membantu produksi. Pemasaran semakin luas, Anjar putuskan rekrut karyawan. Kini ada tiga orang yang membantunya produksi. "Enggak terlalu banyak orang karena sudah pakai mesin," jelasnya.
Ikan yang diproduksi pun beragam. Bahkan dia mencoba berbagai jenis ikan. Mulai bandeng, kembung, layang, tenggiri, tongkol, hingga tuna. Diceritakan jika mulanya Anjar tak tahu bahwa ikan tuna memiliki tekstur dan rasa paling pas. Sehingga kini, varian jenis abon yakni tuna, cakalang, kepiting dan ayam.
Paling diminati abon tuna. Sekali produksi hingga 12 kilogram atau hasilkan 135 bungkus. "Itu susut sampai 50 persen bobot ikannya, karena kan tulang, kepala, ekor enggak dipakai. Juga produk kering, jadi dapatnya hanya kurang lebih setengahnya," imbuh perempuan kelahiran 1972 itu.
Produksi rutin 2-3 kali seminggu khusus abon. Sebab, Anjar juga mengolah produk lain seperti aneka sambal. Ide itu bermula saat dinas terkait mengajaknya pameran ke Jakarta. Di sana, dia terinspirasi dari salah satu UMKM yang membuat sambal ikan. Anjar pun mencoba membuat sambal kepiting, sambal cakalang dan sambal tuna. Ternyata diterima baik oleh pasar. Di situlah dia mulai rutin produksi.
Usaha dengan nama Fafa itu juga tidak hanya dipasarkan di Berau. Namun juga di Samarinda, termasuk di bandara. "Khusus reseller Samarinda itu mereka yang pasarkan. Misal masuk toko ini itu. Jadi memang percayakan reseller," tutupnya. (bersambung)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo