Niatnya sederhana, sang anak yang doyan makan lele tak harus repot lagi keluar rumah. Dari situ, peluang muncul. Jadi supplier ikan, olah jadi makanan frozen hingga mengantarkannya konsisten dengan berbagai olahan serba ikan.
RADEN RORO MIRA, Balikpapan
SEKITAR 14 tahun lalu, Santi dan suaminya membuat kolam ikan lele di depan rumah. Sebab sang anak penggemar ikan berkumis tersebut. Saat panen, ternyata ada sekitar 300 ekor lele.
“Ini siapa yang makan kalau kebanyakan. Coba jual, teman yang usaha katering mau. Malah minta dicarikan sampai seribu ekor. Dari situ coba cari dan digenapkan sama ikan lele yang di kolam saya tadi. Dari situ coba jadi supplier ikan,” ungkapnya.
Khusus lele, Santi kembangkan sendiri. Ada beberapa kolam dibuat, khusus pembesaran dan penampungan. Sedangkan jenis ikan lain seperti nila, mas, hingga mujair, dia kerja sama dengan tengkulak.
Dua tahun berselang, Santi memutuskan resign. Coba lagi cari-cari penghasilan harian. “Soalnya katering ini kan bulanan, jadi coba cari usaha yang bisa dapat uang setiap hari. Saya olah makanan bumbu, jadi ikan bumbu, ayam, jadi tinggal goreng atau bakar,” kata dia.
Di situlah Bonles Food lahir. Aneka makanan frozen siap masak yang dia jual. Serapan pasarnya sangat bagus. Kala itu dia masih tinggal di Bontang. “Menurut saya, 80 persen ibu-ibu di Bontang ini pekerja semua. Jadi lumayan laku, sudah ada pasarnya,” lanjutnya.
Di awal, tentu Santi butuh usaha ekstra agar usahanya dikenal. Keliling ke berbagai perumahan, tawarkan makanan bumbu siap masak. Hingga akhirnya memiliki toko sendiri.
Berjalannya waktu, pada 2016 Santi coba-coba untuk membuat olahan lain yang masih terbuat dari ikan. Lahirlah keripik bawis dan amplang. Kembali dia gencarkan promosi. Hingga beberapa toko oleh-oleh menampung produknya.
Hingga pada November 2023, Santi pindah domisili ke Balikpapan. Untuk pasar keripik bawis dan amplang sudah ada, namun pasar olahan frozen hanya di Bontang. “Jadi belum buka lagi di Balikpapan. Soalnya masih baca pasar, dari yang saya amati sih di sini tipikal yang makanan matang. Tapi ke depan sih ada rencana buka frozen lagi di sini,” ungkap perempuan kelahiran 1981 itu.
Di Bontang, produksi dibantu empat orang. Namun semenjak ke Balikpapan, Santi mengandalkan suami dan ibunya untuk membantu. Setiap hari dia produksi walau sedikit khusus amplang. Sedangkan keripik bawis, produksi langsung banyak setiap 1-2 minggu sekali. Bahan baku, ikan bawis dikirim langsung dari Bontang sebanyak 100 kilogram.
“Paling banyak amplang itu pakai 10 kilogram ikan, karena terbatas tenaga. Tapi setiap hari karena harus selalu ada stok. Soalnya selain suplai ke toko, juga ada penjualan online di rumah,” bebernya.
Ada 25 mitra kerja sama pemasaran yang tersebar di tiga kota yakni Balikpapan, Bontang dan Samarinda. Namun di Balikpapan paling banyak, 19 tempat. Semenjak di Kota Beriman (Balikpapan), dia cukup masif tawarkan produk untuk dititipkan.
Sedangkan online, dia coba ambil peluang atau pasar di mana toko-toko offline sudah tidak beroperasi. “Ada marketplace, ada juga yang Grab Mart dan Go Food. Buka toko mulai 4 subuh sampai 12 malam. Di situ yang lumayan ramai. Balikpapan ini kan banyak yang datang, misal seharian sudah kegiatan, ternyata besok harus balik tapi lupa beli oleh-oleh. Jadi ya tengah malam atau subuh-subuh itu lumayan yang pesan,” jelasnya.
Terdekat, dia ingin mem-branding usahanya sebagai olahan berbagai penganan dari ikan tenggiri. Selain amplang, dia juga sudah produksi empek-empek. Percobaan pertama beberapa waktu lalu, langsung habis.
“Kita ini kan dekat laut, bahan baku itu tersedia dan segar-segar. Pasar olahan perikanan juga masih luas, makanya konsisten di usaha ini. Pelan-pelan kembali kembangkan usaha lagi,” tutup Santi. (bersambung)
Editor : Muhammad Ridhuan