KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kinerja ekspor Kaltim pada Januari 2025 mengalami penurunan yang signifikan. Nilainya tercatat sebesar USD 1.678,22 juta, turun 30,61 persen dibandingkan Desember 2024 yang mencapai USD 2.418,47 juta. Penurunan itu disebabkan oleh merosotnya nilai ekspor migas dan nonmigas.
Ekspor migas turun 45,09 persen menjadi USD 173,91 juta, sementara ekspor nonmigas turun 28,43 persen menjadi USD 1.504,31 juta. “Nilai ekspor migas Januari 2025 tercatat sebesar USD 173,91 juta, lebih rendah dibandingkan dengan nilai ekspor migas Desember 2024 yang tercatat USD 316,71 juta,” ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Yusniar Juliana, Senin (10/3).
Sementara itu, nilai ekspor nonmigas tercatat USD 1.504,31 juta. Lebih rendah dibandingkan dengan nilai ekspor nonmigas Desember 2024 yang senilai USD 2.101,76 juta. Penurunan ekspor migas dipicu oleh anjloknya ekspor gas sebesar 68,79 persen menjadi USD 65,05 juta. Meski demikian, ekspor hasil minyak justru naik tipis 0,54 persen menjadi USD 108,86 juta.]
Di sektor nonmigas, penurunan terdalam terjadi pada ekspor bahan bakar mineral sebesar USD 410,85 juta (24,32 persen). Selain itu, ekspor lemak dan minyak hewani/nabati juga turun signifikan sebesar USD 201,97 juta (62,72 persen).
“Namun, ada beberapa komoditas yang mengalami peningkatan ekspor, seperti besi dan baja (naik USD 11,87 juta), mesin dan perlengkapan elektrik (naik USD 6,08 juta), serta bahan kimia organik (naik USD 3,23 juta),” beber Yusniar.
Tiongkok masih menjadi negara tujuan utama ekspor nonmigas Kaltim dengan nilai USD 510,95 juta (33,97 persen), diikuti India (USD 231,02 juta) dan Filipina (USD 125,57 juta). Namun, ekspor ke beberapa negara tujuan utama seperti Tiongkok, Taiwan, dan Jepang mengalami penurunan signifikan.
“Tiongkok turun USD 286,49 juta (35,93 persen). Taiwan turun USD 66,11 juta (63,02 persen) dan Jepang turun USD 65,35 juta (37,44 persen),” sebutnya.
Total ekspor nonmigas ke 11 negara tujuan turun 26,60 persen menjadi USD 1.387,28 juta. Ekspor nonmigas Kaltim ke kawasan ASEAN tercatat sebesar USD 339,01 juta (22,54 persen), sementara ke Uni Eropa hanya USD 5,01 juta (0,33 persen).
Jika dirinci menurut sektor, penurunan ekspor nonmigas disebabkan oleh turunnya nilai ekspor di semua sektor. Ekspor hasil industri mengalami penurunan terdalam sebesar 45,36 persen, diikuti ekspor hasil tambang (24,32 persen) dan hasil pertanian (7,89 persen).
Namun, dibandingkan Januari 2024, ekspor hasil tambang justru naik 4,31 persen. Sebaliknya, ekspor hasil pertanian dan industri turun masing-masing 68,47 persen dan 46,05 persen. Pada Januari 2025, komoditas hasil tambang tetap menjadi andalan ekspor Kaltim dengan kontribusi 76,17 persen, diikuti hasil industri (13,39 persen) dan migas (10,36 persen).
Tiga pelabuhan utama penyumbang ekspor Kaltim adalah Pelabuhan Balikpapan (USD 466,38 juta), Pelabuhan Samarinda (USD 371,47 juta), dan Pelabuhan Tanjung Bara (USD 252,36 juta). Secara keseluruhan, nilai ekspor dari lima pelabuhan utama turun 31,48 persen menjadi USD 1.285,70 juta. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo