KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan baru saja merilis angka inflasi di Kota Beriman pada Senin (5/3) lalu. Berdasarkan pantauan yang dilakukan oleh BPS, tercatat bahwa pada Februari 2025 terjadi deflasi sebesar 0,10 persen. Dari angka tersebut, dapat kita katakan bahwa terjadi penurunan harga barang dan jasa secara umum pada bulan Februari 2025 dibandingkan Januari 2025.
Namun jika dibandingkan dengan bulan Februari tahun lalu, terjadi inflasi sebesar 0,18 persen. Apakah dengan terjadinya deflasi pada bulan Februari ini lantas membuat kondisi harga saat Ramadan dan Idulfitri nanti tetap stabil? Kita perlu menelisik lebih jauh lagi komoditas apa yang memiliki andil/sumbangan terbesar terhadap deflasi Balikpapan bulan ini.
Menurut komoditas, tarif listrik memberikan andil terbesar terhadap deflasi Balikpapan pada Februari 2025. Seperti kita ketahui bersama, pemerintah memberikan diskon 50 persen kepada pelanggan rumah tangga PT PLN (Persero) daya 450 VA, 900 VA, 1.300 VA, dan 2.200 VA sesuai dengan Keputusan Menteri ESDM Nomor348.K/TL.01/MEM.L/2024. Pemberian diskon ini berlaku selama dua bulan yaitu Januari dan Februari 2025.
Dalam historis 5 tahun terakhir, selain pada Januari 2025, perubahan tarif listrik terjadi pada Juli dan Agustus 2022, dikarenakan adanya tariff adjustment atau penyesuaian tarif tenaga listrik pada kuartal III-2022 yang tertuang dalam Surat Menteri ESDM Nomor T162/TL.04/MEM.L/2022 tanggal 2 Juni 2022 tentang Penyesuaian Tarif Tenaga Listrik.
Selain listrik, komoditas dengan andil deflasi terbesar kedua adalah daging ayam ras. Daging ayam ras mengalami deflasi sebesar 2,60 persen dengan andil sebesar 0,06 persen. Deflasi ini dapat diartikan secara singkat sebagai penurunan harga daging ayam ras. Namun jika kita lihat data historis, daging ayam ras telah mengalami inflasi sejak Oktober 2024 dan mengalami deflasi pada Februari 2025.
Tomat juga merupakan komoditas yang memberikan andil deflasi pada Februari 2025. Sejalan dengan daging ayam ras, tomat juga mengalami inflasi sejak Oktober 2024 dengan inflasi terbesar terjadi pada November 2024 yaitu sebesar 34,91 persen.
Meskipun terjadi deflasi pada Februari 2025, terdapat beberapa komoditas yang mengalami inflasi dan perlu menjadi perhatian memasuki momen Ramadan dan Idulfitri 2025. Beberapa komoditas pangan yang mengalami inflasi dan memberikan andil terbesar pada Februari 2025 seperti minyak goreng, beras, cabai rawit, dan kelapa.
Minyak goreng misalnya, mengalami inflasi sejak Agustus 2024. Cabai rawit berangsur mengalami inflasi sejak Desember 2024. Inflasi cabai rawit tertinggi terjadi pada bulan Januari 2025 sebesar 62,66 persen dengan andil sebesar 0,14 persen.
Menilik data historis tahun sebelumnya, komoditas tarif angkutan udara mungkin akan mengalami inflasi terdampak tingginya permintaan menjelang Ramadhan dan Idulfitri. Tahun 2024 lalu misalnya, pada April, angkutan udara mengalami inflasi sebesar 11,78 persen dengan andil yang cukup besar yaitu 0,28 persen.
Atau pada 2023, angkutan udara mengalami inflasi sebesar 7,13 persen pada April. Tarif angkutan udara menjadi salah satu komoditas yang berpotensi menyumbang inflasi karena naiknya permintaan, baik pada Idulfitri maupun Natal dan tahun baru. Akan tetapi, pada libur Natal dan tahun baru 2024/2025 lalu, pemerintah menurunkan harga tiket pesawat penerbangan dalam negeri selama periode 19 Desember 2024 hingga 03 Januari 2025.
Kebijakan ini menyebabkan komoditas angkutan udara mengalami deflasi pada dua bulan, Desember 2024 dan Januari 2025 sebesar 9,68 persen dan 4,66 persen. Apabila pada libur Idulfitri tahun ini pemerintah kembali menurunkan harga tiket, maka komoditas angkutan Udara bisa jadi kembali mengalami deflasi.
Perlu kita pahami bahwa inflasi bukanlah hal yang harus dihilangkan, tetapi harus dikendalikan. Inflasi yang terlalu tinggi dapat menurunkan daya beli masyarakat dan menyebabkan ketidakstabilan ekonomi. Namun deflasi yang terlalu dalam juga akan menyebabkan perekonomian lesu karena berkurangnya permintaan barang dan jasa.
Pemerintah melalui PMK nomor 31 Tahun 2024 telah menetapkan target inflasi pada tahun 2025 sebesar 2,5 persen dengan deviasi sebesar 1,0 persen. Semoga dengan adanya target ini, inflasi dapat dikendalikan dan perekonomian Kota Balikpapan khususnya menjadi lebih maju lagi. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo