Melihat celah peluang dari bisnis thrift atau pakaian bekas berkualitas untuk anak. Beralih haluan yang sebelumnya memang khusus menjual pakaian anak baru. Cek pasar, ternyata catatkan animo luar biasa. Jadi penjualan jelang Lebaran paling pecah.
RADEN RORO MIRA, Samarinda
Keputusan Indah untuk menjual thrift dia ambil setelah merasakan dampak penurunan daya beli yang cukup signifikan pada usaha fesyen anak yang dia rintis sejak 2018. Apalagi, pakaian thrift khusus anak belum banyak di Samarinda.
“Tahun setelah Lebaran, penjualan di toko cukup sulit. Perputaran barang lambat, pembeli minta hadirkan barang baru. Tapi bagaimana bisa ada barang baru kalau di toko barangnya belum laku. Sedangkan butuh modal untuk barang baru,” ungkap Indah.
Memutar otak, dia coba jual kembali pakaian sang anak. Tentu yang masih bagus atau yang jarang dipakai. Selain itu, anak-anak juga cepat berkembang. Sehingga beberapa pakaian anaknya memang bisa dibilang secara kualitas masih seperti baru.
“Jadi bukan pakaian harian yang aku jual. Baju yang masih bagus. Coba jual pakai akun toko, ternyata respons bagus. Engagement tinggi, coba lah paket usaha thrift untuk lihat respons pasar. Eh makin naik peminatnya. Karena kan harganya murah, secara bahan juga bagus dan modelnya banyak,” lanjutnya.
Akhir tahun adalah titik di mana dia fokus dengan usaha thrift. Dari yang hanya paket usaha, memberanikan diri ambil kapasitas besar atau satu bal dengan berat 100 kilogram.
Pakaian yang datang juga dia sortir lagi, tidak langsung jual. Dia pastikan bersih dengan laundry dahulu. Sistemnya pun dijual dengan cara live, semakin banyak pembelinya. Bahkan tidak hanya dari Samarinda saja.
“Pelanggan paling setia dan selalu beli itu dari Sulawesi. Dia juga disimpan dulu, kalau belanjaannya sudah sampai 5-6 kilogram, baru dikirim. Jadi selalu menanti barang baru di live,” jelas Indah.
Diakui jika sekali siaran langsung, pembelian bisa mencapai Rp 1-2 juta omzetnya. Benar-benar naik signifikan. Momen Lebaran di tokonya memang selalu ramai. Banyak orangtua mencari pakaian, utamanya gamis atau koko anak.
Namun tahun ini, hingga 80 persen kenaikan penjualan dia rasakan. “Stok gamis atau koko baru juga tetap ada. Bahkan sudah sold semua ini, yang ramai ya thrift itu,” jelas pemilik usaha Galeri Raiqah tersebut.
Harga pakaian yang ditawarkan mulai Rp 5-50 ribu. Bahkan disebutkan Indah, beberapa pembeli tak percaya jika barang yang dijual adalah thrift. Selain itu, tak semua thrift adalah bekas. Ada pula yang masih baru dengan tag brand.
Sepanjang Ramadan, Indah sudah enam kali mendatangkan barang. Itupun diakui kejar-kejaran dengan stok di toko karena terus habis diborong pembeli. Apalagi, dia juga terapkan sistem promo setiap hari.
“Mulai dari promo 3.3 awal Maret kemarin. Ternyata lumayan. Tawarkan lagi promo diskon 15 persen, nah ini promo lagi mulai 26 Maret sampai malam takbiran, beli 5 gratis 1 dan semua barang rata harganya Rp 15 ribu,” terang dia.
Promo tersebut diakuinya untuk menjaga antusias pembeli. Barang juga silih berganti mengisi toko. “Soalnya kan ini barang random, isinya enggak mungkin sama. Jadi memang cepat-cepatan. Ada yang bisa setiap hari beli, lihat live dan datang ke toko,” tutupnya.
Editor : Muhammad Ridhuan