KALTIMPOST.ID, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali bikin geger dunia. Ia menaikkan tarif impor terhadap China menjadi 104 persen, langkah yang langsung menyulut ketegangan global.
Kebijakan ini diumumkan secara resmi oleh Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, dan mulai berlaku Rabu, 9 April 2025.
“Tiongkok ingin membuat kesepakatan, mereka hanya tidak tahu bagaimana melakukannya,” ujar Leavitt, dengan nada sindiran.
Langkah ini bukan tanpa sebab. Trump menuduh China terlibat dalam penyelundupan fentanil dan memfasilitasi imigrasi ilegal ke AS.
Baca Juga: Ketua Komisi X DPR RI Kecam Perusakan Hutan Pendidikan Unmul Akibat Tambang Ilegal, Usut Tuntas
Februari lalu, ia memulai dengan tarif 10 persen, lalu naik jadi 50 persen pada Maret, dan kini mencapai angka fantastis 104 persen. China pun merespons dengan bea masuk balasan sebesar 84 persen.
Namun, yang lebih mengejutkan, puluhan negara lain termasuk Uni Eropa juga ikut kena imbas.
Tarif untuk negara-negara ini bervariasi, antara 11 persen hingga 50 persen, menciptakan gelombang kekhawatiran di pasar internasional.
Langkah sepihak Trump langsung mendapat sorotan tajam dari Dana Moneter Internasional (IMF).
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, menyebut tarif tersebut sebagai “risiko besar terhadap ekonomi global,” terutama di saat dunia masih berjuang keluar dari perlambatan ekonomi.
Baca Juga: Skor Arsenal vs Madrid 3-0: Dua Roket Declan Rice Guncang Liga Champions
“Kami mengimbau Amerika Serikat dan mitra dagangnya untuk bekerja secara konstruktif guna menyelesaikan ketegangan perdagangan dan mengurangi ketidakpastian,” kata Georgieva.
Pasar saham pun bereaksi cepat. Aksi jual besar-besaran terjadi setelah China mengumumkan balasan terhadap tarif AS. Investor dunia mulai panik.
Ini Bisa Menghancurkan Kepercayaan Dunia Terhadap AS
Salah satu suara paling lantang datang dari miliarder dan investor kawakan AS, Bill Ackman.
Dalam unggahannya di platform X, Ackman menilai bahwa Trump sedang merusak kepercayaan global terhadap Amerika Serikat.
Baca Juga: Hari Pertama Usai Libur Lebaran: Gubernur Tinjau RSUD AWS dan Atensi Kelengkapan Fasilitas
“Bisnis adalah permainan kepercayaan. Presiden kehilangan kepercayaan dari para pemimpin bisnis dunia,” tegas Ackman.
Ia juga memperingatkan dampaknya terhadap masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah, yang akan paling terdampak oleh kenaikan harga akibat lonjakan tarif.
Di balik semua kebijakan keras ini, ada satu pertanyaan besar, apakah ini cara Trump untuk memaksa dunia tunduk? Atau justru sinyal bahwa ekonomi Amerika sedang digiring menuju ketidakpastian?
China, sebagai sumber impor terbesar kedua bagi AS, tentu menjadi sasaran utama.
Tahun lalu saja, nilai ekspor China ke AS mencapai USD 439 miliar, sedangkan ekspor AS ke China hanya USD 144 miliar. Ketimpangan ini menjadi alasan utama Trump ingin “mengubah permainan”. ***
Editor : Dwi Puspitarini