KALTIMPOST.ID-Industri perhotelan di Balikpapan menghadapi tantangan serius seiring menurunnya rata-rata lama menginap tamu dan tingkat hunian kamar (TPK) pada hotel berbintang sepanjang Februari 2025.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan, tercatat penurunan pada beberapa indikator utama yang menjadi tolok ukur performa sektor perhotelan di kota ini.
Rata-rata lama menginap tamu hotel berbintang pada Februari 2025, diungkap Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama Prianto mengalami penurunan sebesar 0,09 poin dibandingkan Januari 2025, yakni dari 1,68 hari menjadi 1,59 hari.
“Jika dibandingkan dengan Februari 2024, terjadi penurunan sebesar 0,10 poin, dari 1,69 hari menjadi 1,59 hari,” sebutnya.
Penurunan itu terjadi baik pada tamu domestik maupun mancanegara. Rata-rata lama menginap tamu asing menurun 0,09 poin dibandingkan Januari, dan hanya meningkat tipis 0,0003 poin dibandingkan Februari tahun lalu.
Sedangkan tamu Nusantara mengalami penurunan sebesar 0,10 poin secara tahunan.
Marinda juga mencatat bahwa capaian tertinggi lama menginap dalam setahun terakhir terjadi pada Mei 2024 untuk tamu nusantara dengan rata-rata 1,84 hari, dan pada Maret 2024 untuk tamu asing dengan durasi menginap 7,45 hari.
Sementara capaian terendah terjadi pada Desember 2024 (1,55 hari) untuk tamu Nusantara dan pada September 2024 (1,99 hari) untuk tamu asing.
Di sisi lain, TPK hotel berbintang pada Februari 2025 tercatat sebesar 55,58 persen. Angka itu meningkat 0,71 poin dari Januari 2025 yang sebesar 54,87 persen.
Namun bila dibandingkan Februari 2024, terjadi penurunan sebesar 4,33 poin, dari 59,91 persen menjadi 55,58 persen.
Secara klasifikasi, hotel bintang tiga mencatat TPK tertinggi sebesar 61,86 persen, disusul hotel bintang lima sebesar 61,47 persen, dan hotel bintang empat sebesar 53,39 persen. TPK terendah tercatat pada hotel bintang satu dan dua yang hanya mencapai 39,15 persen.
“TPK hotel bintang lima memang mengalami kenaikan sebesar 5,71 poin dibanding Januari, namun secara tahunan justru menurun 1,51 poin,” kata Marinda.
Baca Juga: Pengusaha yang Terdampak Teriak, Ini Ancaman bagi Bisnis Perhotelan dan Wisata di Kaltim
Menyikapi kondisi tersebut, Ketua PHRI Balikpapan Soegianto mengungkapkan kekhawatiran mendalam terhadap masa depan industri perhotelan jika tren penurunan terus berlangsung.
Ia menyebut salah satu faktor utama penurunan okupansi adalah pemangkasan anggaran pemerintah yang berdampak langsung pada pembatalan berbagai kegiatan besar.
“Semenjak pemerintah melakukan pemangkasan anggaran, segala sesuatu berubah. Kegiatan yang sebelumnya sudah direncanakan jauh-jauh hari dibatalkan, termasuk MICE (meetings, incentives, conferences, exhibitions) yang menjadi andalan bagi banyak hotel,” jelasnya.
Menurutnya, okupansi hotel di Balikpapan turun sekitar 20-25 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Itu berpengaruh signifikan terhadap pendapatan hotel dan juga ekosistem ekonomi yang bergantung pada sektor pariwisata.
“Bukan hanya internal, UMKM di sekitar hotel pun ikut terdampak karena tamu berkurang,” tambahnya.
Soegianto berharap pemerintah bisa lebih bijak dalam mengatur anggaran. Ia juga mendorong promosi wisata yang lebih masif untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan memperpanjang lama tinggal mereka di Balikpapan.
Dengan tren penurunan yang terjadi baik dari sisi lama menginap maupun tingkat hunian kamar, industri perhotelan Balikpapan saat ini sedang berupaya bertahan.
“Kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha itu sangat penting lho, untuk memulihkan kembali geliat sektor ini dan menjaga keberlangsungan tenaga kerja serta roda perekonomian daerah,” tutupnya. (rd)
ULIL MU'AWANAH
Editor : Romdani.