KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Tren menginap di hotel berbintang Kalimantan Timur (Kaltim) pada Februari 2025 menunjukkan perubahan perilaku wisatawan. Rata-rata lama menginap tamu di hotel klasifikasi bintang tercatat mengalami penurunan.
“Mengalami penurunan sebesar 0,02 poin. Dari rata-rata lama menginap Januari 2025 yaitu 1,61 hari menjadi 1,59 hari,” papar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Yusniar Juliana.
Penurunan durasi menginap juga terlihat jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Februari 2024, rata-rata lama menginap tamu di hotel bintang masih berada di angka 1,62 hari, yang berarti terjadi penurunan sebesar 0,03 poin pada Februari 2025.
Jika dibedah berdasarkan kewarganegaraan tamu, baik tamu asing maupun Nusantara sama-sama menunjukkan tren penurunan durasi menginap secara bulanan. Rata-rata lama menginap tamu asing pada Februari 2025 turun tipis sebesar 0,01 poin dibandingkan Januari 2025.
Sementara itu, penurunan yang lebih signifikan terjadi pada rata-rata lama menginap tamu Nusantara, yakni sebesar 0,02 poin.
“Jika dibandingkan dengan Februari 2024, tren yang berbeda justru terlihat pada tamu asing. Rata-rata lama menginap tamu mancanegara justru mengalami peningkatan sebesar 0,07 poin. Sebaliknya, tamu nusantara menunjukkan konsistensi tren penurunan durasi menginap, dengan penurunan sebesar 0,03 poin dibandingkan Februari 2024,” sebutnya.
Menariknya, jika ditelusuri perkembangan rata-rata lama menginap tamu setiap bulannya dalam setahun terakhir (Februari 2024 – Februari 2025), tamu Nusantara mencatatkan durasi menginap terlama pada Mei 2024, yakni selama 1,85 hari.
Sementara itu, tamu asing betah berlama-lama di hotel bintang Kaltim pada Maret 2024, dengan rata-rata menginap mencapai 5,87 hari.
Sebaliknya, durasi menginap terpendek tamu nusantara tercatat pada April 2024, Desember 2024, dan Februari 2025, dengan rata-rata hanya 1,58 hari. Untuk tamu asing, durasi menginap terpendek terjadi pada Desember 2024, yaitu selama 2,03 hari.
Penurunan rata-rata lama menginap itu bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perubahan preferensi wisatawan yang mungkin lebih memilih perjalanan singkat, atau adanya peningkatan kunjungan wisatawan bisnis dengan agenda yang padat. Perbedaan tren antara tamu asing dan Nusantara juga mengindikasikan motif perjalanan yang berbeda.
Pelaku industri perhotelan di Kaltim diharapkan dapat lebih cermat dalam memahami tren dan berinovasi dalam menawarkan paket-paket wisata atau layanan yang sesuai dengan preferensi wisatawan saat ini, baik domestik maupun mancanegara.
Rata-rata lama menginap tamu hotel klasifikasi bintang menurun. Salah satunya perubahan preferensi wisatawan untuk perjalanan singkat. (*)
Editor : Ismet Rifani