KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kalimantan Timur (Kaltim) sepanjang tahun 2024 menunjukkan angka yang cukup terkendali dibandingkan dengan rata-rata nasional. Dengan menggunakan tahun dasar Survei Biaya Hidup (SBH) 2022, inflasi umum Kaltim tercatat sebesar 1,47 persen, lebih rendah dari angka nasional yang mencapai 1,57 persen.
Data yang dirilis BPS Kaltim itu membagi penyajian IHK ke dalam 11 kelompok pengeluaran. Dari data tersebut, terlihat bahwa mayoritas kelompok pengeluaran di Kaltim memberikan andil positif terhadap inflasi tahunan.
Namun, dua kelompok justru memberikan andil negatif, yakni transportasi serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan. Yang menarik, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar di Kaltim dengan andil mencapai 0,77 persen.
Baca Juga: Harga di Kaltim Lebih Mahal dari Nasional di 2024, Tapi Inflasi Tahunan Lebih Terkendali
"Hal itu mengindikasikan bahwa kenaikan harga pada komoditas kebutuhan pokok sehari-hari seperti beras, daging, telur, dan bumbu-bumbu menjadi motor utama pendorong inflasi di Kaltim sepanjang 2024," beber Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tekanan inflasi lebih banyak dirasakan masyarakat melalui pengeluaran rutin, terutama untuk urusan dapur. Sebaliknya, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya mencatatkan andil inflasi terkecil, hanya 0,03 persen. Sementara itu, kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga juga memberikan kontribusi yang relatif kecil terhadap laju inflasi.
Meski inflasi umum Kaltim lebih rendah dari nasional, ada satu sektor yang menjadi sorotan, yakni kesehatan. "Kelompok pengeluaran kesehatan mencatat selisih IHK terbesar antara Kalimantan Timur dan nasional. IHK kelompok ini di Kalimantan Timur tercatat sebesar 108,28, lebih tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 104,64," paparnya.
Baca Juga: Investor Reksadana Makin Solid, 235 Ribu Warga Kaltim Pilih Investasi Praktis
Mengindikasikan bahwa selama 2024, kenaikan harga kebutuhan kesehatan di Kaltim lebih terasa dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia sejak tahun dasar 2022. Selain kesehatan, terdapat empat kelompok pengeluaran lain di Kaltim yang mencatatkan tingkat inflasi year-on-year (yoy) lebih tinggi dibandingkan nasional. Kelompok tersebut adalah makanan, minuman, dan tembakau; pakaian dan alas kaki; perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga; serta rekreasi, olahraga, dan budaya.
"Sebaliknya, enam kelompok pengeluaran lainnya di Kaltim justru mencatatkan inflasi yang lebih rendah dari angka nasional. Kelompok tersebut meliputi perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga, transportasi, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan, pendidikan, penyediaan makanan dan minuman/restoran. Serta perawatan pribadi dan jasa lainnya," lanjut Yusniar.
Secara keseluruhan, memberikan gambaran bahwa meskipun inflasi umum di Kaltim relatif stabil, fluktuasi harga antar kelompok pengeluaran cukup signifikan. Menekankan pentingnya pemantauan dan kebijakan yang lebih fokus pada masing-masing sektor untuk menjaga stabilitas harga di Kalimantan Timur.
Pemerintah daerah diharapkan dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk mengendalikan harga, terutama pada sektor-sektor yang memberikan andil besar terhadap inflasi dan yang mengalami kenaikan harga signifikan seperti kesehatan. (*)
Editor : Muhammad Rizki