Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Inflasi Kaltim 2024: Harga Beras Jadi Biang Kerok, Tiket Pesawat Bikin Lega Dompet

Raden Roro Mira Budi Asih • Kamis, 1 Mei 2025 | 13:27 WIB
PENYUMBANG: Beras jadi komoditas langganan penyumbang inflasi terbesar sepanjang 2024. Dengan andil 0,32 persen.
PENYUMBANG: Beras jadi komoditas langganan penyumbang inflasi terbesar sepanjang 2024. Dengan andil 0,32 persen.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Tahun 2024 menjadi catatan penting dalam dinamika perekonomian Kalimantan Timur (Kaltim). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi tahunan (year-on-year/yoy) di Bumi Etam dipengaruhi kuat oleh kenaikan harga beras. Komoditas pangan pokok itu menyumbang andil inflasi terbesar, yakni mencapai 0,32 persen.

Selain beras, beberapa komoditas lain turut memberikan andil terhadap kenaikan harga secara keseluruhan. "Emas perhiasan berada di urutan kedua dengan andil 0,27 persen, disusul sigaret kretek mesin (SKM) sebesar 0,13 persen, dan ikan layang/ikan benggol dengan kontribusi 0,12 persen," ungkap Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana.

Komoditas lain yang juga menyumbang inflasi, meskipun dengan andil yang lebih kecil, antara lain bawang merah (0,10 persen), tarif rumah sakit (0,09 persen), kopi bubuk dan udang basah (masing-masing 0,07 persen), serta nasi dengan lauk dan sawi hijau (masing-masing 0,06 persen).

Di tengah tekanan inflasi, ada kabar menggembirakan dari sektor transportasi dan pertanian. Angkutan udara menjadi komoditas yang memberikan andil deflasi (penurunan harga) terbesar, mencapai 0,29 persen. Penurunan tarif tiket pesawat ini tentu menjadi angin segar bagi masyarakat yang sering bepergian menggunakan transportasi udara.

Penurunan tarif angkutan udara cukup signifikan membantu menekan angka inflasi secara keseluruhan. Selain angkutan udara, sejumlah komoditas lain juga turut menyumbang deflasi.

"Cabai rawit mencatatkan deflasi sebesar 0,20 persen, diikuti daging ayam ras (0,12 persen), bensin (0,10 persen), dan jagung manis (0,08 persen)," lanjut Yusniar.

Komoditas hortikultura lain seperti cabai merah juga mengalami penurunan harga dengan andil deflasi 0,07 persen. Sementara itu, telepon seluler menyumbang deflasi 0,03 persen, ikan tongkol/ikan ambu-ambu dan sabun mandi cair masing-masing 0,02 persen, serta ikan bandeng/ikan bolu sebesar 0,01 persen.

Data itu memberikan gambaran jelas mengenai dinamika harga berbagai komoditas di Kaltim sepanjang 2024. Meskipun beras menjadi penyumbang inflasi terbesar, penurunan harga pada beberapa komoditas lain, terutama angkutan udara dan beberapa produk pertanian, sedikit meringankan beban ekonomi masyarakat.

Pemerintah daerah diharapkan dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga, terutama pada komoditas pangan pokok. (*)

Editor : Duito Susanto
#Inflasi Kaltim