KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Membangun pasar dari produk yang hampir dilupakan bukan perkara gampang. Tapi Nurul Ahnadiah tak kekurangan akal. Pemilik PT Bungas Food Nusantara itu menggunakan strategi digital, pendekatan komunitas dan sinergi dengan pelaku pariwisata untuk menjadikan minuman herbal berbahan dasar bawang dayak sebagai ikon baru Kalimantan.
“Dulu orang bahkan lupa apa itu bawang dayak. Sekarang, Alhamdulillah sudah jadi oleh-oleh khas dari Balikpapan hingga Brunei,” kata Nurul saat berbincang bersama Kaltim Post di awal Mei. Kuncinya adalah edukasi dan branding. Ia mengemas bawang dayak dalam bentuk teabag, instan, hingga kopi campur pasak bumi. “Rasanya harus enak dulu. Baru orang mau mencoba,” katanya.
Nurul rajin mengoptimalkan media sosial sejak awal. Dia juga punya tim marketing khusus untuk pemasaran. Dari Facebook dan Instagram, ia mendapatkan pembeli pertamanya dari Singapura. Tak menyangka, produk yang diiklankan di grup jual beli itu menarik perhatian buyer yang kemudian memesan produk langsung ke negaranya. “Dia percaya sama kami, karena sosial media kami aktif dan terlihat serius,” ucap Nurul.
Ia pun memperluas pasar dengan menggandeng toko oleh-oleh di Balikpapan, Samarinda, hingga Berau. Kini sudah ada 26 mitra toko oleh-oleh dan kerja sama dengan tiga lokasi wisata mangrove. Tak hanya itu, Bungas Food juga memasok produk ke sekolah, kampus, dan perusahaan di Kalimantan. “Strategi saya adalah diversifikasi saluran distribusi. Jadi bukan hanya di ritel, tapi juga langsung ke institusi,” kata Nurul.
Dalam proses produksi, ia melibatkan ibu rumah tangga lokal dan memberdayakan delapan petani bawang dayak. Produksi dilakukan setiap hari, bergilir sesuai varian. Sekali produksi bisa menghasilkan hingga 300 kemasan untuk varian teabag dan 150 botol untuk varian siap minum.
Namun, keterbatasan alat membuat proses masih serba manual. “Untuk bikin powder saja, bisa empat hari. Makanya saya ikut lomba-lomba untuk bisa dapat teknologi tepat guna,” tuturnya.
Alih-alih mencari investor, Nurul lebih memilih mengikuti berbagai kurasi dan kompetisi bisnis untuk memperluas jejaring dan mendapat hibah. Ia pernah didukung PLN Peduli, PT BUMA, hingga Kementerian Perdagangan. Salah satunya, dengan mengikuti Expo Wonderful Indonesia di Brunei yang membawa dua Letter of Intent senilai 1.800 dolar Brunei.
Omzet PT Bungas saat ini berkisar Rp 15 hingga Rp 35 juta per bulan. “Memang belum besar. Tapi yang penting usaha tetap hidup dan bisa menggaji orang,” ujarnya. Sambil mengurus tiga anak, Nurul tetap fokus merawat pasarnya. Ia rutin mengecek stok di toko-toko mitra, menerima testimoni pelanggan, dan menjaga kualitas produk. “Orang sudah mulai percaya. Tugas kami menjaga kepercayaan itu,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo