Emas Makin Berkilau, Inflasi Bulanan Ikut Terangkat, Tarif Listrik Ikut Mempengaruhi
Raden Roro Mira Budi Asih• Minggu, 4 Mei 2025 | 13:03 WIB
KONTRIBUSI: Pergerakan harga emas menyumbang andil inflasi bulanan April, tercatat 0,19 persen.
KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Kabar terbaru dari Kalimantan Timur menunjukkan adanya pergerakan harga yang cukup signifikan dalam sebulan terakhir.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur (Kaltim) mencatat, inflasi month-to-month (mtm) pada April 2025 mencapai 0,90 persen.
Sementara itu, inflasi year-to-date (ytd) atau inflasi dari awal tahun hingga April 2025 tercatat sebesar 1,66 persen.
Menurut laporan BPS Kaltim, lonjakan tarif listrik dan harga emas perhiasan menjadi penyumbang utama inflasi bulanan tersebut.
Tarif listrik memberikan andil inflasi mtm yang cukup besar, yakni 0,76 persen. Sementara itu, emas perhiasan menyusul dengan andil sebesar 0,19 persen.
Selain dua komoditas tersebut, sejumlah kebutuhan pokok dan barang lainnya juga turut menyumbang inflasi bulanan.
"Komoditas yang dominan memberikan andil atau sumbangan inflasi mtm pada April 2025, antara lain daging ayam ras, kangkung, bayam, tomat, sawi hijau, ikan tongkol atau ikan ambu-ambu, bahan bakar rumah tangga," ungkap Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana.
Selain itu, juga ada ikan layang atau ikan benggol, bawang merah, kue basah, martabak, nasi dengan lauk, pisang, pasta gigi, ikan kembung, sewa rumah, teh siap saji, dan nugget.
Masing-masing komoditas itu memberikan andil inflasi yang bervariasi.
Kenaikan tarif listrik menjadi faktor dominan yang mendorong inflasi bulanan di Kaltim pada April. Selain itu, pergerakan harga emas juga memberikan kontribusi signifikan.
Lebih lanjut, Yusniar memerinci andil inflasi dari berbagai kelompok pengeluaran secara bulanan. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,79 persen.
Didorong kuat oleh kenaikan tarif listrik. Diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil 0,17 persen, di mana emas perhiasan menjadi pemicu utamanya.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang inflasi sebesar 0,20 persen, dengan daging ayam ras dan sayuran hijau seperti kangkung dan bayam menjadi penyumbang utama.
Di sisi lain, beberapa komoditas justru menahan laju inflasi bulanan. "Angkutan udara menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil 0,27 persen, diikuti oleh bensin 0,02 persen, angkutan laut 0,01 persen, dan baju muslim wanita 0,01 persen, tarif pulsa ponsel juga tercatat memberikan andil deflasi sebesar 0,02 persen," sambungnya.
Untuk kelompok makanan, minuman, dan tembakau sendiri, meskipun secara keseluruhan menyumbang inflasi, terdapat beberapa komoditas yang justru mengalami deflasi.
"Cabai rawit menjadi penyumbang deflasi terbesar 0,11 persen, diikuti oleh udang basah, kacang panjang, cumi-cumi, jeruk, beras, semangka, dan wortel yang masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,01 persen," sebutnya.
Kondisi inflasi bulanan tersebut menunjukkan adanya dinamika harga yang perlu terus dipantau.
Meskipun beberapa komoditas berhasil menekan inflasi, kenaikan tarif listrik dan harga emas perhiasan memberikan dampak yang cukup besar terhadap tingkat inflasi secara keseluruhan di Kaltim pada April 2025.