Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Inflasi Balikpapan Capai 1,51 Persen, Komoditas Ini yang Jadi Penyumbang Tertinggi…

Ulil Mu'Awanah • Rabu, 7 Mei 2025 | 18:34 WIB
Kepala BPS Balikpapan, Marinda Dama Prianto.
Kepala BPS Balikpapan, Marinda Dama Prianto.

KALTIMPOST.ID-Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 1,51 persen pada April 2025.

Kenaikan itu menunjukkan adanya tekanan inflasi yang cukup signifikan dibandingkan April 2024, yang ditandai dengan kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 107,27 menjadi 108,89.

Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama menuturkan, inflasi yang terjadi pada April 2025 itu dipicu oleh kenaikan harga di tujuh kelompok pengeluaran.

“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi tertinggi, yakni sebesar 4,38 persen. Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatat lonjakan signifikan sebesar 9,09 persen,” ucap Marinda.

Secara bulanan (month-to-month/m-to-m), Balikpapan mengalami inflasi sebesar 0,69 persen. Sementara itu, secara tahun kalender (year-to-date/y-to-d), inflasi tercatat sebesar 1,61 persen.

Beberapa komoditas yang dominan mendorong inflasi y-on-y antara lain adalah emas perhiasan, sawi hijau, ikan layang, cabai rawit, minyak goreng, dan daging ayam ras.

Sedangkan komoditas seperti tarif pulsa ponsel, telur ayam ras, dan sabun cair memberikan kontribusi terhadap deflasi.

Menurutnya, tingginya inflasi di kelompok makanan tak terlepas dari dinamika pasokan dan permintaan yang fluktuatif di kota industri ini.

“Kondisi cuaca yang memengaruhi produksi sayuran dan hasil laut, serta meningkatnya permintaan jelang dan selama libur panjang turut berperan dalam kenaikan harga komoditas pangan,” jelasnya.

Dari sisi energi, tarif listrik dan bahan bakar rumah tangga turut mendorong inflasi bulanan. Komoditas lainnya yang menyumbang inflasi m-to-m termasuk ikan tongkol, pisang, dan santan jadi.

Marina mencatat adanya perubahan pola konsumsi masyarakat yang juga turut memengaruhi indeks harga.

“Masyarakat cenderung mengalokasikan pengeluaran lebih besar pada sektor makanan siap saji dan perawatan pribadi,” ujar Marinda. “Perawatan pribadi termasuk di dalamnya emas juga memengaruhi inflasi,” timpalnya.

Baca Juga: 360 Calon Jamaah Haji Samarinda Kloter 2 Menuju Tanah Suci, Ini yang Wajib Mereka Perhatikan…

Namun demikian, sejumlah kelompok pengeluaran mengalami deflasi. Seperti kelompok transportasi yang turun 4,25 persen dan kelompok pakaian serta alas kaki yang turun 1,99 persen. Itu sebagian besar dipengaruhi oleh penurunan harga bensin dan pakaian pria.

“Inflasi yang relatif terkendali itu mengindikasikan stabilitas ekonomi daerah yang masih terjaga, meski ada tekanan dari sektor-sektor tertentu. Kami mengimbau masyarakat dan pelaku usaha untuk tetap waspada terhadap potensi kenaikan harga pada bulan-bulan mendatang, terutama menjelang Iduladha,” tambah Marina. (rd)

 

ULIL MU'AWANAH

Editor : Romdani.
#penajam paser utara #kota balikpapan #komoditas emas #Kutai Barat #inflasi Balikpapan