Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Menyibak Potensi Emas Hijau Tanah Borneo

Nasya Rahaya • Sabtu, 10 Mei 2025 | 20:12 WIB
Dr Apt Hadi Kuncoro, Dosen Fakultas Farmasi Unmul.
Dr Apt Hadi Kuncoro, Dosen Fakultas Farmasi Unmul.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Tanaman obat memiliki potensi sangat menjanjikan. Menurut data Kementerian Kesehatan, perputaran industri jamu nasional pada 2023 mencapai Rp 23 triliun. Sementara pasar global suplemen herbal diproyeksikan menembus angka USD 178 miliar pada 2030. Potensi ini harus dimaksimalkan Pemerintah kaltim.

Bagi Dr Apt Hadi Kuncoro, dunia farmasi tak bisa lepas dari akar hijau yang menjejak dalam sejarah. “Obat itu awalnya dari tanaman,” ujarnya tegas, membuka percakapan siang itu di ruang kerjanya di Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman, Samarinda, Kamis (8/5). “Sebelum ada paracetamol yang dibuat di laboratorium, manusia mengenal pengobatan lewat ekstrak tanaman,” sebutnya.

Di tanah Bumi Etam, warisan itu masih bertahan dalam rupa dedaunan, rimpang, hingga umbi-umbian yang digunakan masyarakat adat untuk merawat kesehatan. Salah satunya adalah bawang tiwai, tanaman lokal yang oleh suku Dayak dipercaya memiliki khasiat untuk tekanan darah hingga kanker.

Hadi menyebut bawang tiwai mengandung senyawa aktif seperti flavonoid dan naftokuinon, khususnya aliuntorosida A dan B. “Ini sudah kami riset, terbukti punya aktivitas antidiabetes, antibakteri, hingga antikanker, terutama pada sel kanker payudara,” katanya. Penelitian terhadap tanaman ini telah melewati tahap uji praklinis dan akan terus dilanjutkan ke arah uji klinis.

Namun, dari sudut pandang farmasi, satu hal tak boleh luput yakni dosis. “Air pun bisa membahayakan jika diminum berlebihan,” katanya memberi analogi. Di sinilah sains berbicara, tanaman yang selama ini hanya direbus dan diminum berdasarkan takaran tradisi, harus diuji kadar zat aktifnya, efek sampingnya, dan potensi interaksinya dengan obat lain jika disandingkan.

Tak sedikit yang skeptis, mempertanyakan apakah obat herbal bisa menandingi kekuatan obat sintetik modern. Hadi menjelaskan, secara historis, senyawa obat memang berasal dari isolasi zat aktif tanaman. “Tapi karena prosesnya panjang dan ketersediaannya terbatas, akhirnya dibuatlah sintesis di laboratorium,” ujarnya.

Namun, menurut dia, keunggulan tanaman obat justru pada keberagaman senyawanya. “Ini yang kami sebut formula Tuhan,” ucapnya. Dalam satu tanaman, terdapat banyak senyawa yang bisa saling bersinergi. Ada yang bekerja sebagai zat aktif, ada pula yang menurunkan toksisitas. Hal ini tak bisa ditemukan dalam senyawa tunggal obat sintetik.

Salah satu contoh nyata adalah kratom (Mitragyna speciosa), tanaman kontroversial yang oleh sebagian negara masuk daftar negatif, namun di Amerika Serikat digunakan untuk mengatasi ketergantungan opioid. “Kami sedang riset soal ini juga, potensi kratom sangat besar, tapi harus digunakan dengan dosis yang tepat,” ujar Hadi.

Kaltim memiliki beragam tanaman yang belum banyak dikenal, tapi menyimpan potensi besar. Hadi bersama timnya kini tengah meneliti sejumlah tanaman endemik seperti Ligodium micropyllum (kerpot), Lepisanthes amoena (kokang), hingga Peronema canescens (sungkai Kalimantan). “Banyak tanaman di sini belum punya data saintifik sama sekali,” katanya.

Terkait pendekatan baru berbasis kimia senyawa dan taksonomi, Hadi berharap tanaman-tanaman ini bisa segera dibuktikan manfaatnya secara ilmiah. “Kami tidak hanya pakai pendekatan etnofarmakologi seperti dulu (yang berdasarkan penggunaan tradisional) tetapi juga mendeteksi kandungan kimia dari genus dan familinya,” jelasnya.

Meski demikian, ada tantangan besar yang mengintai dari bawah tanah. Kaltim didominasi oleh lahan gambut dan tanah bekas tambang batu bara. “Logam berat seperti merkuri atau timbal bisa terakumulasi di tanaman dan itu berbahaya jika dikonsumsi,” ujar Hadi.

Solusinya, kata dia, adalah dengan rekayasa lingkungan seperti remediasi tanah dan penggunaan teknologi pertanian modern seperti rumah kaca hingga hidroponik. “Kalau kita serius ingin menjadikan tanaman obat sebagai produk unggulan, aspek keamanan dan kualitas bahan baku harus jadi prioritas,” katanya.

“Coba ke Watson atau Guardian, lihat harga suplemen herbal impor. Bisa sampai ratusan ribu bahkan jutaan rupiah,” ucap Hadi. Bandingkan dengan Indonesia, yang punya iklim tropis dan bisa menanam sepanjang tahun. “Negara empat musim cuma punya waktu tanam tiga bulan. Kita? Sepanjang tahun,” terangnya.

Kini, Fakultas Farmasi Unmul tengah mengembangkan pendekatan holistik lewat riset jamu berbasis kearifan lokal. “Jamu bukan sekadar minuman. Ia adalah filosofi hidup sehat, pendekatan pengobatan, bahkan warisan budaya,” katanya. Adanya dukungan riset dan pengawasan mutu, Hadi yakin jamu dan tanaman obat lokal bisa bersaing di pasar dunia.

Namun, kesadaran publik jadi kunci. Masyarakat perlu tahu bahwa tidak semua bagian tanaman bisa dikonsumsi, bahwa tak semua yang alami itu aman. Edukasi, regulasi, dan sinergi antara akademisi, pelaku industri, dan pemerintah diperlukan untuk mengangkat kekayaan hayati ini dari hutan Kalimantan ke rak apotek dunia.

“Ini bukan sekadar pengobatan alternatif,” kata Hadi, “Ini adalah masa depan farmasi Indonesia,” pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#kaltim #tanaman obat #ekspor #potensi #industri jamu