
Oleh:
Kevin Septian
Dokter Gigi dan Pegiat Literasi asal Samarinda
DALAM praktik pelayanan kesehatan, ada dua kata yang selalu melekat pada profesionalitas tenaga medis dan tenaga kesehatan: tegas dan empati. Dua hal ini kerap dipersepsikan berbeda oleh pasien. Di satu sisi, ketegasan sering dianggap sebagai sikap dingin atau bahkan galak. Di sisi lain, empati diharapkan sebagai bentuk kepedulian terhadap rasa sakit yang mereka alami. Padahal, keduanya bukanlah pilihan, melainkan keseimbangan yang harus dijaga.
Tenaga medis, dokter dan dokter gigi, serta tenaga kesehatan lainnya, pada dasarnya berada dalam posisi yang tidak sederhana. Mereka ibarat berjalan di atas tali, menjaga keseimbangan antara ketegasan dalam mengambil keputusan medis dan empati dalam memahami kondisi pasien. Ketimpangan pada salah satu sisi dapat berdampak langsung pada kualitas pelayanan.
Ketika tenaga medis terlalu tegas, pasien bisa merasa diperlakukan secara kaku, bahkan tidak manusiawi. Sebaliknya, jika terlalu mengedepankan empati tanpa ketegasan, arah pengobatan bisa menjadi tidak jelas dan berisiko menghambat proses penyembuhan. Karena itu, profesionalitas sejati justru lahir dari kemampuan mengelola keduanya secara bersamaan.
Secara konseptual, ketegasan berarti kejelasan dalam menyampaikan arahan, diagnosis, maupun tindakan medis. Ini mencakup cara berbicara, pilihan kata, hingga ketepatan informasi yang diberikan. Sementara empati adalah kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan pasien, mendengarkan keluhan, memahami ketakutan, dan memberi penjelasan yang menenangkan.

Dalam praktik sehari-hari, keseimbangan ini sangat nyata. Misalnya pada kasus pasien anak. Seorang anak usia empat tahun dengan kondisi gigi rusak akibat kebiasaan konsumsi makanan manis tanpa perawatan yang baik, membutuhkan pendekatan berbeda.
Kepada anak, tenaga medis harus mengedepankan empati, berbicara dengan lembut, memahami rasa takut, dan membangun kepercayaan. Namun kepada orang tua, ketegasan menjadi penting. Edukasi harus disampaikan secara jelas bahwa perubahan perilaku adalah kunci utama penyembuhan. Tanpa peran orang tua, perawatan medis tidak akan optimal.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!



