Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Menapak Jejak Leluhur lewat Ramuan Herbal di Bumi Etam

Nasya Rahaya • Sabtu, 10 Mei 2025 | 20:17 WIB
dr Jaya Mualimin, Kepala Diskes Kaltim.
dr Jaya Mualimin, Kepala Diskes Kaltim.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Bumi Etam punya hutan tropis. Tanahnya didominasi jenis podsolik merah kuning yang bersifat asam dan kaya bahan organik, menjadikannya habitat ideal bagi berbagai tanaman herbal. Didukung curah hujan tinggi dan keanekaragaman hayati tropis, tanah Borneo melahirkan tanaman berkhasiat seperti rimpang-rimpangan herbal.

Ada juga tanaman endemik seperti bawang dayak, pasak bumi, hingga kratom. Tanaman ini diwariskan secara lisan, diseduh di dapur-dapur rumah dan diyakini mampu meringankan berbagai penyakit.

Terkait itu, Dinas Kesehatan (Diskes) Kaltim turut mendorong penggunaan tanaman herbal. Upaya ini menyasar dua tujuan yakni meningkatkan ketahanan kesehatan masyarakat dan membuka ruang ekonomi baru lewat pemberdayaan UMKM lokal.

“Ramuan ini adalah warisan leluhur yang telah digunakan turun-temurun oleh berbagai suku di Indonesia. Kita ingin jamu tak lagi dianggap pelengkap semata, tapi bagian dari sistem kesehatan nasional,” ujar dr Jaya Mualimin, Kepala Dinkes Kaltim, sebutnya kepada Kaltim Post, Selasa (6/5).

Menurut Jaya, tanaman herbal atau jamu sejatinya bukan hanya pelengkap. Beberapa di antaranya terbukti memiliki khasiat yang sebanding dengan obat medis, terutama dalam hal pencegahan penyakit dan peningkatan daya tahan tubuh.

“Kunyit misalnya, sudah lama digunakan untuk menurunkan panas. Atau jahe dan madu yang biasa diminum untuk meredakan nyeri. Itu juga bagian dari jamu,” katanya. Pengenalan produk-produk kesehatan berbasis tanaman herbal saat ini mulai dijalankan di beberapa fasilitas kesehatan tingkat pertama.

“Seperti di Puskesmas Rapak Mahang, Kutai Kartanegara, serta di Rumah Graha Sehat di Samarinda, ada etalase produk-produk herbal, jadi sekaligus mengenalkan produk kepada masyarakat,” sebutnya.

Bukan hanya penyediaan layanan, Dinkes Kaltim juga aktif dalam edukasi dan sosialisasi. Lewat kerja sama dengan akademisi, salah satunya Fakultas Farmasi, pemerintah berupaya memperkuat kajian ilmiah terhadap jamu lokal.

“Kita sudah mulai sosialisasikan pembentukan unit pelaksana teknis untuk obat tradisional di tingkat provinsi. Ini penting untuk standarisasi dan pelatihan masyarakat,” ujarnya. Bumi Etam memiliki kekayaan tanaman herbal yang potensial. Beberapa yang sedang dikaji antara lain kratom, bawang dayak dan pasak bumi.

“Kratom sedang diteliti bersama BNN dan dunia pendidikan, karena punya potensi untuk pengobatan jantung. Bawang dayak bermanfaat untuk menstabilkan gula darah, sementara pasak bumi dikenal sebagai obat kuat sekaligus penurun panas,” terang dr.Jaya.

Diskes juga mendorong tumbuhnya UMKM berbasis ramuan tradisional. Melalui program UMOT (Usaha Menengah Obat Tradisional) dan UKON (Usaha Kecil Obat Tradisional), pelaku usaha lokal diberikan pendampingan untuk mengolah, mengemas dan memasarkan jamu secara higienis dan modern.

“Banyak masyarakat sudah menggunakan jamu, tapi belum tercatat atau terdokumentasi. Kami ingin bantu mereka naik kelas,” kata Jaya.

Ia menekankan, mendorong jamu tradisional bukan berarti menolak obat medis. “Ini soal integrasi. Seperti di banyak negara, pengobatan herbal bisa berjalan berdampingan dengan medis. Banyak obat juga berasal dari tanaman, misalnya kina untuk malaria,” ujarnya.

Langkah ini sejalan dengan tren global, di mana tanaman herbal mulai kembali diandalkan sebagai pelengkap pengobatan medis. “Banyak obat modern pun sebenarnya berasal dari tanaman. Contohnya kina untuk malaria,” tambahnya.

Di Bumi Etam, warisan leluhur tak sekadar dikenang. Ia diracik ulang, dipadukan dengan riset, dan diberi tempat dalam sistem kesehatan masa kini. Siapa sangka, secangkir jamu dari rimpang hutan Kalimantan bisa menjadi jembatan antara tradisi dan masa depan. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#UMKM Lokal #tanaman herbal #kaltim #tanah borneo #diskes