
Oleh: Muhammad Aufal Fresky. Esais asal Madura
KALTIMPOST.ID, Kerap kita dengar bahwa pendidikan adalah sektor vital yang sangat menentukan nasib dan masa depan bangsa. Bahkan jika ada yang berpandangan bahwa pendidikan adalah investasi terbaik jangka panjang, saya pribadi mengamininya.
Hasil dari sebuah sistem, struktur, kebijakan, regulasi, dan program perihal pendidikan nasional tidak bisa langsung dipetik hari ini. Ibarat kita menanam sebuah pohon mangga yang mana kita mustahil untuk memanennya besok atau lusa.
Butuh waktu dan proses yang tidak sebentar. Selain itu, pastinya memerlukan perjuangan, pengorbanan, pengabdian, dan dedikasi oleh setiap pejuang pendidikan. Lebih-lebih guru dan dosen sebagai garda terdepan yang mengajar dan mendidik putra-putri kita.
Kita maklumi bersama bahwa setiap pergantian rezim pemerintahan, acapkali ganti peraturan. Kurikulumnya pun sering bongkar pasang, mudah berganti, alias tidak tetap. Biasanya menyesuaikan dengan arah kebijakan menterinya. Kita pun jadi waswas, jangan-jangan pendidikan kita selama ini tidak ada rancangan bakunya. Jangan-jangan belum mempunyai arah yang jelas.
Baca Juga: Mengintip Proses Kreatif Sastrawan
Bisa jadi, pendidikan nasional kita tercerabut dari akar budaya, identitas, dan asal-usulnya. Sebatas meng-copy semua hal yang datangnya dari luar negeri. Padahal, salah kaprah jika kita menganggap bahwa peradaban Eropa itu selalu lebih mapan dan tinggi daripada peradaban Nusantara.
Padahal, jika ditilik dari sejarahnya, nenek moyang kita di zaman lampau telah berhasil mencetuskan peradaban gemilang di berbagai sektornya. Kita saja yang barangkali kurang menggalinya.
Hal itulah yang menjadikan sebagian dari kita inferior dengan diri kita sebagai bangsa yang besar. Termasuk juga di bidang pendidikan, saya kira sudah saatnya bangsa dan negara ini menemukan dan menggali kembali nilai-nilai luhur para pendahulu untuk diterapkan dalam pendidikan nasional secara komprehensif, sistemik, terencana, dan berkelanjutan.
Seperti halnya nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, keadilan, dan semacamnya. Saya rasa, sebenarnya nilai-nilai tersebut telah masuk kurikulum kita, hanya mungkin dalam proses penerapannya belum optimal.
Kadang proses belajar mengajar di ruang kelas sebatas transfer ilmu pengetahuan. Tugas dan peran guru sebagai pembina atau pembimbing moralitas siswa jadi kurang berjalan dengan baik. Padahal mendidik jiwa itu lebih susah dibandingkan mendidik akal.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




