KALTIMPOST.ID-Momen Ramadan dan Idulfitri (Rafi) 2025 lalu diwarnai dengan pergeseran preferensi masyarakat terhadap penggunaan uang tunai. Khususnya peningkatan permintaan uang pecahan kecil (UPK).
Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Balikpapan mencatat, penyaluran UPK selama periode Rafi 2025 melonjak 18 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Dari Rp 135,8 miliar pada 2024 menjadi Rp 159,9 miliar tahun ini.
“Peningkatan itu mengindikasikan adanya perubahan pola konsumsi masyarakat yang kini lebih mengutamakan uang pecahan kecil dalam memenuhi keperluan transaksi selama Ramadan dan Idulfitri,” ungkap Kepala KPw BI Balikpapan Robi Ariadi.
Sebaliknya, jumlah uang pecahan besar (UPB) yang keluar dari BI mengalami penurunan signifikan. Turun 12 persen yoy dari Rp 1,81 triliun menjadi Rp 1,56 triliun.
Kondisi itu berkontribusi pada total outflow uang kartal di wilayah kerja BI Balikpapan yang juga menurun menjadi Rp 1,88 triliun, atau turun 11,5 persen dibandingkan periode Rafi 2024 yang mencapai Rp 1,94 triliun.
Menurutnya, tren itu bisa menjadi sinyal perubahan perilaku ekonomi masyarakat di tengah pertumbuhan sistem pembayaran digital.
“Kami melihat masyarakat semakin bijak dalam menggunakan uang tunai. Lebih selektif dalam memilih nominal sesuai kebutuhan harian,” jelasnya.
Dari total uang layak edar (ULE) yang disiapkan BI Balikpapan sebesar Rp 1,99 triliun, realisasi selama RAFI 2025 mencapai Rp 1,72 triliun atau 85 persen.
Sementara arus balik uang tunai (inflow) pasca Idulfitri tercatat sebesar Rp 810 miliar hingga 30 April 2025 atau sekitar 47 persen dari total outflow.
“Peredaran uang di wilayah kerja kami bersifat net outflow. Itu karena karakteristik masyarakat Balikpapan yang mayoritas adalah pendatang. Sehingga uang yang ditarik selama Ramadan banyak dibawa dan dibelanjakan di kampung halaman,” kata Robi.
Selain itu, BI juga mencatat penurunan jumlah temuan uang palsu selama triwulan I 2025. Tercatat 124 bilyet uang palsu telah diklarifikasi, turun 16 persen dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai 148 bilyet.
Penurunan itu didorong oleh masifnya transaksi non-tunai serta edukasi keaslian rupiah yang dilakukan secara terus-menerus.
Dalam rangka meningkatkan literasi keuangan, BI Balikpapan juga menjalankan program Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah (CBP) yang menyasar masyarakat dari berbagai lapisan. Termasuk pelajar, komunitas, dan tenaga pendidik.
Atas konsistensi tersebut, BI Balikpapan menerima penghargaan dari Wali Kota Balikpapan pada 2 Mei 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional.
Penghargaan itu diberikan sebagai apresiasi atas dukungan BI dalam Gerakan Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah yang dinilai berkontribusi terhadap pendidikan di Balikpapan.
“Bank Indonesia bersama perbankan aktif menyosialisasikan ciri-ciri keaslian uang rupiah. Baik melalui media, pelatihan, hingga edukasi langsung kepada masyarakat,” saran Robi.
“Bahkan ini juga menjadi salah satu bagian dari mata pelajaran penting di sekolah mengenai ekonomi. Kami juga datang langsung ke sekolah dan menjadi inspektur upacara Senin. Kegiatan itu akan terus berlanjut, demi mendorong anak-anak sejak dini peduli Gerakan Cinta, Bangga dan Paham Rupiah,” tambahnya. (rd)
ULIL MU'AWANAH
Editor : Romdani.