KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Di tengah tantangan efisiensi anggaran dan lesunya okupansi hotel, pengurus Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Balikpapan berupaya memperkuat sinergi lintas sektor untuk membangkitkan kembali pariwisata daerah. Salah satunya lewat forum silaturahmi di Platinum Hotel and Convention Hall, Selasa (27/5).
Ketua PHRI Balikpapan Soegianto menegaskan, kolaborasi lintas lembaga sangat penting agar sektor pariwisata dapat bertahan bahkan berkembang, meski di tengah keterbatasan anggaran. Ia menekankan bahwa pelaku industri tidak bisa bergerak sendiri, melainkan perlu duduk bersama menyusun program dan mencari dukungan pendanaan.
"Kalau kita mau mengajukan anggaran, tentu harus melalui proses seperti musrenbang, ini juga hal yang baru saya ketahui. Tapi intinya, PHRI siap duduk bareng DPRD dan Dinas Pariwisata untuk membuat program bersama, agar anggaran yang ada bisa diarahkan mendukung sektor pariwisata," ucap Soegianto.
Ia juga mengungkapkan bahwa pelaku usaha di sektor perhotelan dan travel selama ini telah menjalin kerja sama yang cukup solid. Namun demikian, penurunan okupansi hotel sejak akhir Desember 2024 hingga saat ini masih menjadi persoalan serius.
"Rata-rata okupansi hotel turun, pendapatan pun hilang hingga 40 persen. Bahkan ketika ada event besar di Balikpapan, tidak otomatis okupansi naik karena event-nya tidak berorientasi pada penggunaan kamar," jelasnya.
Lebih lanjut, ia juga mengatakan, pentingnya mengintegrasikan agenda event dengan sektor perhotelan dan perjalanan, agar dampaknya terasa nyata. Meski kondisi menekan, Soegianto menyebut belum ada pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor perhotelan Balikpapan. Hanya saja, beberapa hotel sudah mengurangi jam kerja karyawan, namun hotel besar seperti Platinum belum mengambil langkah itu.
Dalam jangka menengah, PHRI Balikpapan juga menargetkan pasar wisatawan mancanegara, khususnya dari Tiongkok. Destinasi Balabalagan disebut sebagai salah satu potensi utama untuk menarik wisatawan luar negeri.
"Tamu dari Tiongkok itu menyukai seafood dan layanan spa dan itu Balikpapan sudah punya standar bagus. Tapi mereka juga suka pantai dan aktivitas seperti diving. Nah, ini perlu disiapkan. Kerja sama dengan Pulau Balabalagan harus segera direalisasikan," kata Soegianto.
Dengan sinergi yang lebih kuat, PHRI berharap industri pariwisata Balikpapan mampu melewati tantangan efisiensi dan bangkit menjadi kekuatan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Ia juga mendorong pemerintah daerah dan stakeholder untuk kembali memperjuangkan penerbangan langsung dari Balikpapan ke Tiongkok maupun sebaliknya, seperti yang dilakukan Manado dan Bali. "Kalau ingin serius menggaet wisatawan asing, konektivitas internasional harus dibuka lagi. Ini sangat strategis," pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo