Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Lonceng Darurat Kekerasan Seksual Di Dunia Pendidikan

R
Ilustrasi
Ilustrasi

Advertisement

Oleh: 

Safaruddin Harefa

Akademisi, Peneliti dan Pemerhati Perempuan dan Anak Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura 

Advertisement

DERETAN kasus kekerasan seksual yang terungkap di lingkungan pendidikan dalam beberapa waktu terakhir memperlihatkan bahwa dunia pendidikan Indonesia sedang menghadapi krisis yang serius. Kasus yang muncul di Pati, Bogor, Lombok Tengah, hingga Bandung menunjukkan bahwa kekerasan seksual bukan lagi persoalan yang berdiri sendiri atau bersifat insidental, melainkan persoalan struktural yang tumbuh di ruang-ruang pendidikan yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak dan peserta didik.

Ironisnya, pelaku dalam banyak kasus justru merupakan sosok yang selama ini dihormati sebagai guru, pengasuh pesantren, pembina, hingga tokoh agama yang memiliki pengaruh besar terhadap korban.

Safaruddin Harefa
Safaruddin Harefa

Advertisement

Kasus di Pondok Pesantren Ndholo Kusumo di Kabupaten Pati menjadi salah satu gambaran paling memprihatinkan tentang rapuhnya perlindungan terhadap anak di lingkungan pendidikan. Pengasuh pondok berinisial Ashari diduga melakukan kekerasan seksual terhadap puluhan santriwati yang sebagian besar berasal dari keluarga tidak mampu dan yatim piatu.

Dugaan jumlah korban yang mencapai puluhan orang menunjukkan bahwa tindakan tersebut tidak terjadi sekali, melainkan berlangsung dalam waktu yang panjang tanpa penanganan serius. Kemarahan masyarakat pun pecah ketika ratusan warga mendatangi lokasi sambil membawa spanduk bertuliskan “Pondok tempat belajar, bukan tempat kurang ajar”. Kalimat tersebut menjadi simbol kekecewaan publik terhadap rusaknya ruang pendidikan yang seharusnya melindungi anak-anak, bukan justru melahirkan trauma dan ketakutan.

RELASI KUASA DAN BUDAYA BUNGKAM

Jika dicermati, hampir semua kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan memiliki pola yang serupa. Pelaku bukan orang asing, melainkan figur yang memiliki otoritas moral dan posisi dominan terhadap korban. Ada yang menjadi pengasuh pondok, pengajar, alumni senior, hingga pendakwah publik yang selama ini dihormati dan dipercaya masyarakat. Posisi tersebut membuat korban sulit melawan karena pelaku memiliki pengaruh besar dalam kehidupan mereka, baik secara psikologis, sosial, maupun ekonomi.

Dalam banyak kasus, kekerasan seksual tidak selalu dilakukan melalui ancaman fisik secara langsung, tetapi melalui manipulasi emosional yang dibangun secara perlahan. Pelaku mendekati korban secara personal, memberikan perhatian khusus, menciptakan kedekatan emosional, lalu membangun ketergantungan terhadap korban. Setelah hubungan itu terbentuk, korban diarahkan ke situasi privat yang kemudian dimanfaatkan untuk melakukan tindakan seksual tanpa persetujuan. Ada pula kasus di mana pelaku menggunakan simbol agama untuk membungkam korban, seperti meminta korban bersumpah agar tidak menceritakan kejadian yang dialaminya kepada siapa pun.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Inilah Tampang Ashari, Tersangka Pencabulan 50 Santriwati di Pati yang Kini Ditangkap, Sempat Kabur ke Sejumlah Daerah

Inilah Tampang Ashari, Tersangka Pencabulan 50 Santriwati di Pati yang Kini Ditangkap, Sempat Kabur ke Sejumlah Daerah

Tampang Ashari, pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Ndholo Kusumo yang mencabuli 50 santriwati.

Di Balik Kedok Ponpes Gratis, Kiai di Pati Cabuli 50 Santriwati, Beraksi Sejak Puluhan Tahun

Di Balik Kedok Ponpes Gratis, Kiai di Pati Cabuli 50 Santriwati, Beraksi Sejak Puluhan Tahun

Kiai di Pati diduga cabuli 50 santriwati dengan kedok ponpes gratis. Aksi bejat disebut berlangsung puluhan tahun.

Main Hakim Sendiri: Pengingkaran Terhadap Negara Hukum dan Kemanusiaan

Main Hakim Sendiri: Pengingkaran Terhadap Negara Hukum dan Kemanusiaan

Seorang warga berinisial KD, yang diduga mencuri ayam, tewas setelah dikeroyok massa.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer