KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Meski tekanan efisiensi anggaran masih berlanjut hingga 2026, Pemkot Balikpapan tetap menjadikan sektor pariwisata sebagai tumpuan utama dalam menjaga stabilitas Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Dengan capaian PAD pariwisata yang menembus Rp 320 miliar pada 2024, Pemkot Balikpapan yakin potensi wisata masih bisa dikembangkan, terutama lewat strategi baru di bidang sport tourism dan wisata budaya.
Seperti yang disampaikan Sekretaris Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Balikpapan Abdul Majid, bahwa strategi lintas sektor kini tengah digalakkan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Pemerintah tidak lagi hanya mengandalkan kunjungan wisata dari luar daerah, tetapi juga dari kawasan sekitar Balikpapan.
“Dukungan lintas sektor terus diperkuat. Kita akan dorong kegiatan-kegiatan yang bisa mendatangkan orang ke Balikpapan. Targetnya tidak perlu jauh-jauh, dari sekitar Balikpapan saja seperti Samarinda, Penajam, Kukar, Grogot, mereka juga rutin datang dan menginap pada akhir pekan di sini itu sudah bagus,” ungkap Majid.
Tantangan memang tak bisa dihindari. Sejak 2024, tingkat hunian hotel anjlok dari yang sebelumnya stabil di kisaran 70–80 persen, kini hanya bertahan di angka 40-30 persen. Kondisi ini menjadi alarm bagi pelaku wisata dan pemerintah untuk berinovasi.
“Pasca efisiensi, okupansi hotel sekarang hanya yah sekitar 40 persen. Padahal dulu bisa bertahan di angka 70 sampai 80 persen. Dan kebijakan efisiensi ini masih akan berlanjut hingga 2026,” lanjutnya.
Majid menyebut, inovasi pariwisata tidak bisa hanya bergantung pada fasilitas fisik semata, namun harus ditopang oleh pelayanan berkualitas dan keberagaman atraksi. “Fasilitas hiburan mesti terus tingkatkan, tapi itu tidak cukup. Kalau tidak disertai pelayanan yang baik, maka pariwisata juga tidak akan berjalan maksimal,” tegasnya.
Pemkot Balikpapan mencatat PAD tahun 2024 melampaui target, dengan total capaian Rp 1,06 triliun. Dari angka tersebut, sektor pariwisata juga memberikan sumbangsih besar dengan kontribusi yakni sebesar Rp 320 miliar yang berasal dari hotel, restoran, hiburan, dan objek wisata.
Dengan berbagai strategi yang disiapkan, harapannya sektor pariwisata tidak hanya menjadi penyelamat PAD, tetapi juga lokomotif ekonomi kota di tengah tekanan efisiensi anggaran yang belum usai. Majid menyampaikan, untuk tahun 2025, pemkot Balikpapan menargetkan pendapatan sektor pariwisata di kisaran Rp 300 miliar.
Namun angka ini masih bersifat tentatif, karena pemerintah akan mengevaluasi situasi ekonomi pada semester pertama tahun ini. “Pemerintah masih akan evaluasi kondisi ekonomi dulu di pertengahan tahun. Baru nanti bisa dipastikan apakah target PAD dari sektor pariwisata akan dinaikkan atau beda lagi,” tutup Majid. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo