KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Secara tahunan, pada Mei memang tercatat inflasi sebesar 1,03 persen year on year (yoy). Namun perbandingan bulanan mengatakan sebaliknya, terjadi deflasi 0,35 persen month to month (mtm).
Terungkap lebih detail komoditas-komoditas penyumbang utama penurunan harga tersebut. Data terbaru menunjukkan, aneka bumbu dapur dan lauk pauk menjadi pahlawan yang membuat inflasi bulanan di Kaltim pada Mei 2025 berbalik arah.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil mencapai 0,56 persen month-to-month (mtm).
Biang keladinya tak lain adalah cabai rawit yang memberikan andil deflasi paling signifikan, yakni 0,19 persen. “Menyusul kemudian daging ayam ras dengan andil 0,08 persen, serta ikan layang/ikan benggol dan bawang merah yang masing-masing berkontribusi 0,07 persen terhadap penurunan harga,” beber Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana.
Tak hanya itu, sejumlah komoditas pangan lainnya juga ikut menekan inflasi, seperti kangkung dan tomat (masing-masing 0,04 persen), bawang putih (0,03 persen), ikan tongkol/ikan ambu-ambu dan bayam (masing-masing 0,02 persen).
“Hingga udang basah, cumi-cumi, jagung manis, ikan trakulu, ikan kakap merah, telur ayam ras, susu bubuk, cabai merah, dan ikan bandeng/ikan bolu yang masing-masing menyumbang deflasi sebesar 0,01 persen,” lanjutnya.
Meski demikian, kenaikan harga beberapa komoditas pangan seperti beras (0,05 persen), kopi bubuk (0,02 persen), serta mie kering instan, sigaret kretek mesin (SKM), ketimun, dan biskuit (masing-masing 0,01 persen) sedikit menahan deflasi yang lebih dalam pada kelompok tersebut.
Selain pangan, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga juga turut menyumbang deflasi tipis sebesar 0,01 persen, terutama disebabkan oleh penurunan harga bahan bakar rumah tangga sebesar 0,04 persen. “Kenaikan tarif tukang bukan mandor (0,02 persen) dan sewa rumah (0,01 persen) sedikit mengimbangi penurunan tersebut,” sebutnya.
Di sisi lain, kelompok transportasi justru menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,14 persen. Biang keroknya adalah angkutan udara yang tarifnya melonjak tajam hingga menyumbang inflasi sebesar 0,15 persen, diduga kuat akibat momen libur panjang Mei. Sementara itu, harga mobil dan bensin justru mengalami penurunan tipis sebesar 0,01 persen.
Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan juga mencatatkan inflasi sebesar 0,02 persen, didorong oleh kenaikan tarif pulsa ponsel sebesar 0,02 persen. Begitu pula dengan kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya yang mencatat inflasi 0,01 persen akibat kenaikan tarif bioskop.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga tak luput dari kenaikan harga, dengan inflasi sebesar 0,02 persen.” Penyebab utamanya adalah kenaikan harga emas perhiasan, parfum, dan shampo yang masing-masing menyumbang inflasi 0,01 persen. Sementara itu, harga pembalut wanita justru mengalami penurunan tipis sebesar 0,01 persen,” paparnya.
Dengan rincian data tersebut, terlihat jelas bahwa stabilisasi harga pangan, terutama komoditas bumbu dapur dan lauk pauk, menjadi kunci utama terciptanya deflasi di Kaltim pada Mei 2025. Namun, kenaikan tarif angkutan udara dan beberapa kebutuhan pribadi patut menjadi perhatian ke depan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo