KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) bersama sejumlah lembaga strategis menggelar diskusi panel bertajuk "Soemitronomics: Gagasan, Langkah, dan Pengaruh Ekonomi Soemitro Djojohadikoesoemo" di Universitas Mulawarman, Samarinda, Rabu (4/6).
Acara diikuti 500 peserta, baik daring maupun luring, menyoroti relevansi pemikiran ekonom legendaris Soemitro Djojohadikoesoemo, di tengah dinamika ekonomi global yang kian kompleks.
Pembicara kunci dan panelis terkemuka Solikin M. Juhro menegaskan bahwa gagasan Soemitro sangat relevan di era Turbulence, Uncertainty, Novelty, and Ambiguity (TUNA), yang merupakan evolusi dari kondisi sebelumnya, yakni Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity (VUCA).
“Kondisi global fragmented yang terjadi saat ini menjadikan pemikiran Soemitro sebagai pijakan penting,” sebut Asisten Gubernur Bank Indonesia tersebut.
Dalam sesi panel, Kepala BPS RI sekaligus Ketua Bidang II PP ISEI, Amalia Adininggar Widyastuti, memaparkan perkembangan ekonomi Indonesia dari masa ke masa. Dia secara khusus menyoroti urgensi industrialisasi produk pertanian Indonesia sebagai salah satu kunci kemajuan ekonomi.
“Industrialisasi menjadi penting untuk menghindari petaka komoditas dan menumbuhkan kelas menengah yang tangguh. Serta kebijakan ekonomi adalah keberpihakan pada kepentingan masyarakat dan negara,” tutupnya sebagai pengantar diskusi.
Hadirkan Ari Kuncoro yang merupakan Rektor Universitas Indonesia (2019-2024) dan juga seorang bankir. Dia menggarisbawahi vitalnya konsep trilogi pembangunan serta aplikasi nasionalisme, sosialisme, dan pragmatisme di tengah rivalitas global yang makin tajam.
Menekankan pentingnya sentralisme Indonesia dalam menyikapi rivalitas AS-Tiongkok, dengan menerapkan langkah preventif dan kehati-hatian sesuai dengan fondasi ekonomi yang digagas Soemitro.
Sesi kedua menghadirkan Ahmad Erani Yustika, yang membedah fondasi fundamental strategi pertumbuhan ekonomi bangsa ala Soemitro. Tiga pilar utama menjadi fokus. “Gerakan Ekonomi Benteng, memberikan keistimewaan pada importir lokal dan penyaluran kredit usaha rakyat kepada usaha kecil dan menengah (UKM),” sebut Guru Besar FEB Universitas Brawijaya tersebut.
Lalu efisiensi birokrasi, menekankan pentingnya regulasi yang efisien untuk menghindari high cost economy yang memberatkan kesejahteraan masyarakat. Serta riset dan inovasi, mengintegrasikan riset dan inovasi dalam pertumbuhan dan pembangunan ekonomi, serta mendukung industri dalam negeri.
Diskusi dimoderatori Ketua ISEI Cabang Samarinda Aji Sofyan Effendi. Diharapkan kegiatan tersebut menjadi koridor awal strategi rekonfigurasi pembangunan ekonomi yang berorientasi pada stabilitas, kesejahteraan publik, dan berbasis koperasi rakyat. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo