KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Angin lesu menerpa sektor ekspor Kalimantan Timur (Kaltim) pada April 2025. Data terkini menunjukkan adanya penurunan signifikan dalam nilai ekspor, terutama dari lima pelabuhan utama yang menjadi gerbang utama distribusi komoditas. Meski demikian, sejumlah pelabuhan tetap menunjukkan kapasitasnya sebagai tulang punggung ekspor, meskipun di tengah gempuran tren negatif.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat, total nilai ekspor dari lima pelabuhan utama di Kaltim mencapai USD1.320,95 juta pada April 2025. Angka itu merosot tajam sebesar 9,88 persen jika dibandingkan dengan Maret 2025 yang kala itu mampu membukukan nilai USD1.465,73 juta. Penurunan tersebut menjadi alarm bagi pemerintah daerah dan pelaku usaha untuk mencermati lebih jauh faktor-faktor penyebab perlambatan ekspor.
Di tengah tren penurunan, tiga pelabuhan tetap menunjukkan dominasinya sebagai penyumbang terbesar terhadap total nilai ekspor Kaltim pada April 2025. "Pelabuhan Samarinda dengan kontribusi mencapai USD 359,85 juta," ungkap Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana.
Angka tersebut menempatkannya di posisi teratas, mengindikasikan kuatnya arus komoditas yang keluar dari gerbang ibu kota Bumi Etam. Tak kalah penting, Pelabuhan Balikpapan membayangi ketat. "Dengan nilai ekspor sebesar USD351,69 juta," lanjut Yusniar.
Sebagai kota minyak dan pusat logistik, Balikpapan memang selalu menjadi pemain kunci dalam aktivitas ekspor Kaltim. Menyusul di posisi ketiga adalah Pelabuhan Bonthan Bay yang menyumbangkan USD238,07 juta, menunjukkan potensi besar dari kawasan itu.
Jika dilihat dari perspektif yang lebih panjang, yakni periode Januari-April 2025, peran dominan Pelabuhan Balikpapan semakin terlihat jelas. "Menyumbang 28,50 persen terhadap total ekspor Provinsi Kalimantan Timur selama empat bulan pertama tahun ini. Disusul kemudian oleh Pelabuhan Samarinda dengan kontribusi sebesar 22,10 persen. Selain itu, Pelabuhan Tanjung Bara juga menunjukkan kontribusi signifikan dengan menyumbang 12,62 persen dari total ekspor periode Januari–April 2025," jelas Yusniar.
Data itu menggarisbawahi pentingnya infrastruktur pelabuhan sebagai urat nadi perekonomian Kaltim yang sangat bergantung pada sektor komoditas, terutama batu bara dan minyak bumi. Penurunan nilai ekspor bisa jadi merupakan cerminan dari fluktuasi harga komoditas global atau adanya kendala logistik yang perlu diatasi. (*)
Editor : Ismet Rifani