Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Tidak Dihadiri Kadis ESDM Kaltim, Forum Sumbu Tengah Tetap Bahas Sisi Gelap Tambang

Nasya Rahaya • Sabtu, 21 Juni 2025 | 19:04 WIB
CARI PENCERAHAN: Dari kiri, Joko Supriyadi, Utih Arum Zahra, Arief Rahman, Rusdianto, Muhammad Sarip, Ananta Tsabita dalam Forum Sumbu Tengah Edisi 2, di Perpustakaan Kota Samarinda, 20 Juni 2025.
CARI PENCERAHAN: Dari kiri, Joko Supriyadi, Utih Arum Zahra, Arief Rahman, Rusdianto, Muhammad Sarip, Ananta Tsabita dalam Forum Sumbu Tengah Edisi 2, di Perpustakaan Kota Samarinda, 20 Juni 2025.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Timur, Bambang Arwanto, batal hadir dalam forum diskusi bertema “Sisi Gelap Tambang Masa Kini dan Kaltim-Kaltara Masa Silam” yang digelar Forum Sumbu Tengah di Mini Teater Perpustakaan Samarinda, Jumat (20/6). Padahal sebelumnya, ia telah menyatakan kesediaan menjadi pembicara.

Panitia forum menyayangkan ketidakhadiran tersebut. Apalagi, panitia sempat menjadwalkan acara mundur satu jam untuk menunggu kiriman video sambutan dari Bambang. Namun, hingga diskusi dimulai, video tak kunjung diterima.

Pihak Dinas ESDM menyampaikan bahwa Bambang tengah mendampingi Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud dalam kunjungan ke Kutai Barat melalui jalur darat dan semua staf turut serta.

“Seharusnya ada perwakilan yang hadir. Banyak peserta datang karena ingin mendengar langsung sikap Pemprov terhadap kasus tambang di Muara Kate dan Kawasan Industri Hijau (KRUS),” ujar Rusdianto, pendiri Forum Sumbu Tengah sekaligus moderator diskusi.

Meski tanpa kehadiran pihak ESDM, diskusi tetap berjalan dengan lima narasumber dari berbagai latar belakang. Ketua Yayasan Sejarah Budaya Kalimantan Utara, Joko Supriyadi, membuka sesi dengan paparan sejarah Bultiken, akronim dari tragedi Bulungan, Tidung, dan Kenyah. “Apa yang terjadi di Kaltim punya dampak besar terhadap dinamika sejarah Kaltara,” katanya.

Penulis dan pegiat literasi Utih Arum Zahra turut membedah buku Histori Kutai karya Muhammad Sarip. Ia menyoroti bagian tentang masa kelabu pada era Demokrasi Terpimpin. “Tahun 1964–1965 adalah fase paling gelap dalam sejarah Kesultanan Kutai,” kata Utih, yang juga dikenal sebagai pendiri Komunitas Baca (Kombaca) Samarinda.

Dari dunia digital, Arief Rahman hadir mewakili komunitas Wikipedia Bahasa Indonesia. Ia menjelaskan mekanisme editorial di situs ensiklopedia bebas itu yang kerap disalahpahami.

“Wikipedia memang bisa diedit siapa saja, tapi semua editan disaring oleh kontributor aktif dan harus berbasis sumber yang kredibel,” katanya. Ia menambahkan, jejak sejarah dan tokoh bermasalah akan tetap tercatat dalam situs tersebut, selama ada referensinya.

Sejarawan publik Muhammad Sarip, yang juga penulis buku Histori Kutai, mengkritik penulisan ulang Sejarah Nasional Indonesia (SNI) yang dianggap gagal merepresentasikan narasi dari Kalimantan.

“Tidak satu pun sejarawan Kalimantan dilibatkan. Revisi ini katanya hendak keluar dari perspektif kolonial, tapi faktanya justru tetap Jawa-sentris,” ungkapnya.

Diskusi ditutup dengan penampilan vokal mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman, Ananta Tsabita. Gen Z peraih juara dua lomba cover lagu tema BKKBN Kaltim ini menyanyikan lagu “Menjadi Manusia” ciptaan Rusdianto. “Sebagai anak muda, saya merasa belum banyak tahu tentang sejarah Kaltim maupun isu pertambangan,” ujar Tsabita.

Di akhir sesi, sejumlah peserta mengaku kecewa karena gagal mendengar langsung jawaban Dinas ESDM terkait isu pertambangan yang makin gencar dipersoalkan masyarakat sipil. “Kami berharap diskusi seperti ini bisa jadi ruang tatap muka antara warga dan pengambil kebijakan. Tapi yang terjadi justru sebaliknya,” ucap seorang peserta.

Forum Sumbu Tengah merupakan ruang diskusi lintas generasi yang digagas untuk membina budaya ucap, tulis, ekspresi, dan nalar kritis. Edisi kedua ini mengangkat benang merah antara sejarah dan realitas tambang di Kalimantan, dari masa silam hingga hari ini. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#diskusi #sisi gelap #samarinda #esdm #Forum Sumbu Tengah