
Cerita Pendek Karya Sahari Nor Wakhid
KALTIMPOST.ID - Tidak semua pelajaran yang diajarkan di kelas bisa hidup di luar dindingnya. Kenyataan sering kali menolak untuk tunduk pada kata-kata yang rapi dan teratur. Apa yang disusun dalam buku, dijelaskan di papan tulis, dan dihafal sebagai kebenaran, kerap runtuh begitu berhadapan dengan kepentingan. Di sanalah pelajaran kehilangan daya hidupnya. Bukan karena salah, tetapi karena dunia tidak selalu memberi ruang untuk tumbuh.
“Pak, kalau hutan itu penting, kenapa di luar sana malah hilang?” tanya Rendi dengan nada polos yang justru terasa menohok.
Ardi terdiam sejenak, mencoba mencari jawaban yang tidak hanya benar, tetapi juga jujur.
“Apakah hutan hanya hidup di buku, Pak?” lanjut Lila, suaranya pelan, tetapi cukup untuk membuat ruang kelas terasa lebih sempit.
Ketidakberdayaan ini mulai bergelayut dalam kepala Ardi, seorang guru di salah satu SMP di Kutai Timur. Ia berdiri di depan kelas dengan spidol di tangannya. Ia menatap papan tulis dengan pikiran yang masih mengembara. Sementara itu, matahari telah menunaikan tugasnya mengeringkan embun. Sinarnya perlahan masuk lewat jendela. Kontras dengan kenyataan yang terbentang.
Sekolah Ardi memang berjarak sekitar 98 kilometer dari kawasan inti Taman Nasional Kutai, tetapi jarak itu tak pernah benar-benar mampu membatasi dampak yang kini terasa begitu dekat. Bahkan, seolah merembes masuk ke dalam ruang kelas.
“Pak, tadi saya lihat lagi monyet di atap kelas,” ujar Bima sambil menunjuk ke arah langit-langit.
“Kenapa mereka ke sini terus ya, Pak? Apa mereka tersesat?” tanya Sari dengan nada antara penasaran dan takut.
Ardi menarik napas pelan, lalu menjawab dengan suara yang lebih berat dari biasanya, “Mungkin…bukan mereka yang tersesat.”
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




