Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Dari Kunjungan Menteri Kebudayaan ke Tiongkok, Belajar Pengelolaan Museum untuk Gaet Wisatawan

Nugroho Pandu Cahyo • Selasa, 15 Juli 2025 | 16:06 WIB
KOMUNIKASI: Menteri Kebudayaan Fadli Zon bertemu Director of The Palace Museum, Wang Xudong, di jantung kota Beijing, tepatnya di kawasan bersejarah Forbidden City.
KOMUNIKASI: Menteri Kebudayaan Fadli Zon bertemu Director of The Palace Museum, Wang Xudong, di jantung kota Beijing, tepatnya di kawasan bersejarah Forbidden City.

KALTIMPOST.ID, BEIJING - Angin segar berhembus ke sektor pembangunan ekonomi kreatif berbasis sejarah dan warisan budaya, khususnya di bidang permuseuman. Ini setelah pemerintah Tiongkok tertarik untuk menjalin kolaborasi dalam pengelolaan museum, pelestarian warisan budaya hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Keinginan ini disampaikan kepada Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon saat melakukan kunjungan budaya strategis ke Republik Rakyat Tiongkok. Dalam agenda diplomasi budaya tersebut, Menteri Fadli Zon bertemu dengan Director of The Palace Museum, Wang Xudong, di jantung kota Beijing, tepatnya di kawasan bersejarah Forbidden City.

Tujuannya bukan hanya pelestarian, tetapi juga pengembangan museum sebagai economic driver baru dalam ekosistem budaya. “Kita belajar dari pengelolaan The Palace Museum yang bukan hanya menjadi pusat sejarah, tapi juga mesin ekonomi pariwisata dan edukasi dengan 17 juta pengunjung per tahun. Ini angka yang berdampak langsung pada ekonomi lokal dan nasional,” ujar Fadli Zon baru-baru ini.

Ia menambahkan, pendekatan modern dalam pengelolaan museum mampu menciptakan peluang kerja, mendorong industri kreatif dan meningkatkan devisa negara dari sektor pariwisata budaya.

Salah satu langkah konkret yang dihasilkan dari pertemuan ini adalah rencana pengiriman tenaga profesional museum Indonesia untuk mengikuti program residensi di The Palace Museum. Ini menjadi upaya untuk memperkuat keahlian nasional dalam konservasi, manajemen koleksi dan desain pameran yang menarik secara ekonomi.

Director Wang Xudong menyambut baik rencana ini dan menegaskan pentingnya pertukaran pengetahuan antar negara. “Kami terbuka untuk kolaborasi dan pengiriman ahli, peneliti serta akademisi Indonesia untuk memperdalam ilmu permuseuman di sini,” ungkapnya.

Kawasan Forbidden City, yang menjadi lokasi The Palace Museum merupakan kompleks istana seluas 72 hektare yang dibangun sejak 1406. Kini, tempat ini menjadi salah satu destinasi wisata budaya paling ramai di dunia, menyumbang pendapatan signifikan dari tiket masuk, tur edukatif, hingga merchandise bernilai tinggi.

Museum ini mengelola lebih dari 1,8 juta koleksi benda seni dan artefak kekaisaran, yang dikemas dalam narasi sejarah menarik, menjadikannya benchmark dunia dalam pengelolaan warisan budaya yang juga menguntungkan secara ekonomi.

“Ini adalah contoh nyata bagaimana kekayaan sejarah bisa diubah menjadi kekuatan ekonomi melalui tata kelola yang modern dan profesional,” ujar Fadli Zon.

Kunjungan ini menjadi refleksi penting untuk pembangunan sektor permuseuman di Indonesia. Pemerintah, melalui Kementerian Kebudayaan, berkomitmen menjadikan museum bukan lagi ruang sunyi sejarah, tetapi sebagai pusat edukasi, pariwisata, sekaligus potensi ekonomi masa depan.

“Pengalaman ini menguatkan tekad kita untuk mengembangkan museum di Indonesia sebagai ruang interaktif yang mampu menarik pengunjung, mendorong ekonomi lokal dan menjadi etalase peradaban bangsa,” tutup Fadli Zon. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#pengelolaan museum #forbidden city #ekonomi kreatif #fadli zon #warisan budaya #pariwisata