“Ini masalah yang terus berulang. UMKM kesulitan naik kelas karena pencatatan keuangan mereka belum tertata dengan baik, padahal itu penting dalam proses administrasi pembiayaan ke lembaga keuangan,” ungkap Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim, Budi Widihartanto, Jumat (25/7).
Karena itu, dalam gelaran BIMA Etam Seri ke-5 yang berlangsung di Berau baru-baru ini, pihaknya hadir membawa solusi lewat sosialisasi aplikasi SIAPIK (Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan). Aplikasi itu diberikan secara gratis kepada pelaku UMKM untuk membantu pencatatan keuangan harian, laporan laba-rugi, hingga arus kas usaha.
“Setiap transaksi cukup diinput lewat HP, nanti sistem akan menghasilkan laporan keuangan otomatis. Ini bisa menjadi dasar bagi bank dalam menganalisis kelayakan pembiayaan,” terang Budi.
BIMA Etam merupakan kolaborasi antara KPw BI Kaltim, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), serta pemerintah daerah. Ajang itu menggabungkan edukasi, literasi, dan business matching antara pelaku UMKM dan lembaga keuangan.
Tak hanya perbankan konvensional dan syariah, BIMA Etam juga menggandeng lembaga lain seperti Pegadaian dan BPJS Ketenagakerjaan. “Pegadaian bisa jadi alternatif pembiayaan. Sementara BPJS membantu perlindungan bagi tenaga kerja sektor UMKM,” tambah Budi.
Peserta juga diperkenalkan pada teknologi transaksi kekinian, mulai dari QRIS, sistem transfer digital, hingga metode pembayaran gesek. “Dengan QRIS, pelaku UMKM bisa melayani transaksi jarak jauh. Ini penting di era digital,” ujarnya.
Setelah sesi edukasi, pelaku usaha diberi kesempatan untuk one-on-one meeting dengan pihak bank guna konsultasi langsung terkait pembiayaan. Proses tersebut dinilai lebih efektif dan praktis karena langsung mempertemukan kebutuhan dan solusi.
Dengan kolaborasi lintas sektor dan pemanfaatan teknologi, Budi berharap UMKM di Kaltim tak hanya bertahan, tapi juga tumbuh berkelanjutan. “Semuanya bersinergi. Kita ingin UMKM tidak hanya dibina, tapi benar-benar naik kelas lewat kolaborasi dan literasi,” tutupnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo