Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Di Balik Kenaikan TBS dan Upah Buruh, Ini Kondisi Kemiskinan di Kaltim

Raden Roro Mira Budi Asih • Selasa, 29 Juli 2025 | 13:52 WIB
FAKTOR: Kenaikan TBS turut menyumbang faktor tingkat kemiskinan. Nilainya naik 19,81 persen.
FAKTOR: Kenaikan TBS turut menyumbang faktor tingkat kemiskinan. Nilainya naik 19,81 persen.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Penurunan tipis angka kemiskinan di Kalimantan Timur pada Maret 2025 tak lepas dari sejumlah faktor pendukung yang memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat.

Mulai dari pertumbuhan ekonomi yang membaik, kenaikan harga komoditas petani, hingga perbaikan upah buruh turut memberi kontribusi pada pergerakan positif tersebut.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Yusniar Juliana menyampaikan bahwa perbaikan sejumlah indikator ekonomi selama September 2024 hingga Maret 2025 memberi efek langsung terhadap peningkatan kesejahteraan sebagian kelompok masyarakat, meskipun tantangan kemiskinan masih kompleks.

“Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur tercatat 1,07 persen pada Triwulan I 2025 dibandingkan Triwulan III 2024. Beberapa sektor yang mengalami pertumbuhan signifikan di antaranya adalah perdagangan besar dan eceran, pertanian, serta akomodasi dan makan minum,” jelas Yusniar.

Sektor perdagangan mencatat pertumbuhan tertinggi mencapai 7,49 persen, disusul pertanian, kehutanan dan perikanan 6,18 persen, serta penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 5,26 persen.

Selain itu, konsumsi rumah tangga juga menguat. Nilai Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) pada Triwulan I 2025 tercatat Rp21.02 triliun, tumbuh 3,06 persen dibanding Triwulan III 2024.

Kesejahteraan petani pun menunjukkan tren positif. Nilai Tukar Petani (NTP) Maret 2025 tercatat 148,93, naik signifikan dari 139,13 pada September 2024. Bahkan, NTP Perkebunan Rakyat (NTPPR) meningkat 19,21 poin menjadi 210,58. Kenaikan harga komoditas turut mendorong hal tersebut.

“Harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit untuk semua usia tanaman naik 19,81 persen menjadi Rp 3.247,00 per kilogram,” ujar Yusniar.

Tak hanya itu, musim panen raya padi yang terjadi di berbagai wilayah seperti Penajam Paser Utara, Samarinda, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Berau, dan Kutai Barat juga berkontribusi terhadap stabilitas pangan lokal. Harga Gabah Kering Panen (GKP) naik tipis dari Rp 6.478 menjadi Rp 6.500 per kilogram.

Dari sisi ketenagakerjaan, jumlah pekerja di sektor informal juga meningkat. Tercatat 943.098 orang atau 46,92 persen bekerja di sektor informal pada Februari 2025, naik dari 836.460 orang (42,32 persen) pada Agustus 2024.

“Lapangan kerja informal seperti pertanian serta akomodasi dan makan minum menyerap tenaga kerja cukup besar, dengan masing-masing kenaikan 9,47 persen dan 7,59 persen,” papar Yusniar.

Rata-rata upah buruh juga menunjukkan kenaikan, meskipun masih terbatas. Dari Agustus 2024 ke Februari 2025, upah naik 0,88 persen menjadi Rp 4.439.658. Kenaikan tertinggi terjadi di sektor pertambangan, keuangan dan asuransi, serta real estat.

Namun demikian, kenaikan harga barang juga tak bisa dihindari. Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 106,69 pada September 2024 menjadi 107,30 pada Maret 2025, menandakan terjadinya inflasi ringan yang umumnya berasal dari sektor pangan.

Kombinasi faktor ekonomi tersebut menunjukkan adanya perbaikan. Namun tetap perlu perhatian terhadap ketimpangan dan kedalaman kemiskinan yang masih terjadi, terutama di wilayah perdesaan. (*)

Editor : Duito Susanto
#Kenaikan Harga Komoditas #pertumbuhan ekonomi #BPS KALTIM #angka kemiskinan #sektor perdagangan