KALTIMPOST.ID, BERAU – Masa pandemi 2020 menjadi awal titik balik bagi banyak orang. Bagi Katharina Natalia, guru asal Desa Sukan Tengah, Berau, waktu luang karena pembelajaran daring justru menjadi peluang.
Dia mengubah hobi membuat kue menjadi ladang usaha yang kini berkembang pesat lewat brand Lia Homemade.
“Pas Covid-19 lalu kan kami hanya mengajar dua jam, selebihnya di rumah. Saya pikir, daripada bengong, mending bikin sesuatu,” kenang perempuan kelahiran Desember 1967 itu.
Tak ingin waktu terbuang, dia mulai menghidupkan kembali hobi lamanya, membuat kue. Salah satu produk pertama yang dia coba adalah kembang goyang, camilan tradisional khas yang biasa hadir di acara-acara.
“Saya tambahkan wijen ekstra, jadi lebih gurih dan renyah. Ternyata teman-teman suka, mulai ada yang pesan per toples, bahkan per kilo,” ujarnya.
Lia tidak berhenti di situ. Aktif mengikuti pelatihan daring selama pandemi, salah satunya pelatihan ketahanan pangan yang diselenggarakan oleh PT Berau Coal. Dari ratusan peserta, dia terpilih sebagai salah satu dari lima peserta terbaik.
“Dari situ makin semangat. Mulai eksplorasi berbagai produk lain. Sekarang ada 15 jenis camilan, dan 10 di antaranya sudah punya kemasan bagus dan dijual di berbagai tempat,” tuturnya bangga.
Beberapa produk unggulannya adalah kacang kentucky, teri krispy, dan peanut chocolate cookies, yang semuanya sudah mengantongi izin BPOM. Selain itu ada juga kukis bawang merah, kukis abon, kukis buah, hingga kacang ting-ting.
Awalnya, produk-produk tersebut hanya dikemas sederhana menggunakan plastik bening dan stiker biasa. Namun seiring perjalanan waktu dan proses perizinan, kemasannya kini telah bertransformasi menjadi kemasan printing profesional yang layak masuk swalayan.
Sejak 2022, produk Lia Homemade sudah menembus swalayan dan toko oleh-oleh di berbagai daerah. Di Berau, produknya tersedia di belasan titik. Bahkan kini sudah masuk ke Bandara di Balikpapan dan galeri UMKM di Samarinda.
“Awalnya ya bawa sampel, tawarkan langsung. Ada kurasi dari pihak toko. Sekarang, produk kami sudah tersebar se-Kaltim,” jelasnya.
Pesanan pun datang silih berganti. Tak hanya dari konsumen umum, tapi juga dari instansi besar seperti Berau Coal.
“Ini belum deal, tapi masih pembicaraan awal. Akan ada pesanan sampai 3.000 pcs sebulan. Ini sedang proses,” ucapnya.
Jika kerjasama itu lanjut, tentu akan membuka peluang lapangan usaha lebih. Sebab saat ini, baru sedikitnya tiga orang yang membantu Lia di bagian produksi. Tentu dia akan lebih banyak memberdayakan ibu rumah tangga khususnya di sekitar rumah produksi jika pesanan lebih banyak.
Setiap hari, produksinya bisa mencapai 50 bungkus untuk satu jenis produk, tergantung permintaan. Produksi dilakukan bergantian untuk tiap varian camilan.
Tak hanya soal produk dan pemasaran, Lia Homemade juga telah menyiapkan rumah produksi sendiri sejak 2022. Rumah produksi tersebut telah memenuhi standar BPOM, dan pernah langsung dikunjungi pihak pengawas BPOM untuk verifikasi.
“Kalau enggak punya tempat yang sesuai standar, susah dapat izin. Makanya sejak awal saya serius urus semua,” ungkapnya.
Lia memulai karier sebagai guru sejak 2001 dan menjadi PNS sejak 2003. Kini, jelang masa pensiunnya, dia justru semakin produktif.
“Ini saya masih aktif mengajar, tapi nanti setelah pensiun tetap bisa produktif lewat usaha ini,” pungkasnya.
Dengan semangat belajar autodidak, yang dia dapat dari praktik langsung dan video YouTube, serta kegigihannya mengurus legalitas, Lia Homemade kini menjelma menjadi UMKM tangguh yang siap bersaing di pasar yang lebih luas. (*)
Editor : Duito Susanto