Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Transaksi Debit di Kaltim Meroket Tembus Rp43,21 Triliun! Tapi Jumlah Gesek Menyusut

Raden Roro Mira Budi Asih • Jumat, 8 Agustus 2025 | 16:28 WIB
FREKUENSI: Meski secara nominal catat kenaikan, tapi frekuensinya menurun. Nominal per transaksi cenderung lebih besar lewat ATM atau debit.
FREKUENSI: Meski secara nominal catat kenaikan, tapi frekuensinya menurun. Nominal per transaksi cenderung lebih besar lewat ATM atau debit.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim mencatat pergerakan transaksi kartu ATM/debit pada triwulan I 2025 menunjukkan tren yang berlawanan. Dari sisi nilai transaksi, terjadi pertumbuhan. Namun, secara jumlah transaksi justru mengalami kontraksi.

Kepala KPw BI Kaltim Budi Widihartanto menyebut, secara nominal, transaksi kartu ATM/debit pada triwulan I 2025 tumbuh 7,19 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka itu lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan IV 2024 yang mencapai 9,65 persen (yoy).

“Nominal transaksi kartu ATM/debit triwulan I tahun 2025 tercatat Rp43,21 triliun, atau lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan IV tahun 2024 yang tercatat Rp40,83 triliun,” ungkapnya.

Meski begitu, dari sisi volume, transaksi mengalami penurunan. Budi memaparkan, volume transaksi kartu ATM/debit pada triwulan I 2025 tercatat 35,05 juta transaksi atau terkoreksi 1,03 persen (yoy). Penurunan tersebut kontras dengan triwulan IV 2024 yang sempat tumbuh 6,68 persen (yoy) dengan total 35,07 juta transaksi.

Kenaikan nilai transaksi tidak otomatis diikuti oleh peningkatan jumlah transaksi. Artinya, nominal per transaksi cenderung lebih besar, meski frekuensinya sedikit menurun.

Jika ditelisik berdasarkan wilayah, pola pergerakan transaksi ATM/debit di Kaltim masih terpusat pada daerah tertentu. Samarinda dan Bontang menjadi penggerak utama, baik dari sisi nominal maupun volume transaksi.

“Berdasarkan nominal transaksi, Samarinda dan Bontang memiliki porsi 26 persen, disusul oleh Kutai Barat dan Paser masing-masing 12 persen,” terangnya.

Sementara jika melihat dari volume transaksi, dominasi Kota Tepian semakin terlihat. “Samarinda memiliki porsi 30 persen, sementara Bontang 28 persen dan disusul Paser serta Kutai Barat masing-masing sebesar 10 persen dan 9 persen,” tambahnya.

Tren itu menunjukkan perbedaan pola konsumsi masyarakat di Kaltim. Di satu sisi, transaksi bernilai besar makin sering dilakukan melalui ATM/debit. Di sisi lain, aktivitas transaksi dengan nominal kecil cenderung lebih jarang dilakukan. (*) 

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#transaksi #kartu atm #BI Kaltim