KALTIMPOST.ID, KUTAI BARAT - Tantangan pendidikan di Indonesia masih besar. Hasil Asesmen Nasional 2023 menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen siswa sekolah dasar belum mencapai kompetensi minimum dalam literasi dan numerasi. Ini membuat Tanoto Foundation terpanggil untuk memberi perubahan.
Rendahnya capaian ini diperburuk dengan kondisi lingkungan belajar yang belum sepenuhnya aman. Data Survei Nasional Perlindungan Anak 2022 mencatat sekitar 26 persen anak Indonesia pernah mengalami pelanggaran hak, termasuk kekerasan fisik maupun perundungan.
Artinya, peningkatan kualitas belajar tidak bisa dilepaskan dari perlindungan anak. Pendidikan hanya dapat berhasil jika sekolah tidak hanya mendidik, tetapi juga menjadi ruang yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak.
Untuk menjawab tantangan itu, Tanoto Foundation, organisasi filantropi di bidang pendidikan yang didirikan oleh Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto pada 1981 menjalankan berbagai program penguatan mutu pendidikan di daerah mitra.
Salah satunya adalah pengembangan Sistem Informasi Manajemen Sekolah (SIMS) dan penerapan Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang dilakukan di Kutai Barat sejak 2021. SIMS dapat digunakan untuk memantau dan melaporkan pemenuhan SNP, seperti data kualifikasi guru, kelengkapan fasilitas, atau hasil penilaian siswa.
Dengan SIMS, sekolah dapat mengelola data secara terpusat untuk memastikan kepatuhan terhadap SNP, sehingga mendukung peningkatan mutu pendidikan. Saat ini kedua inisiatif ini memasuki fase penguatan untuk memperluas dampaknya bagi sekolah dan anak-anak di wilayah tersebut.
“Sistem ini memungkinkan pengelolaan data siswa, guru, hingga sarana prasarana secara lebih efisien dan transparan. Dengan begitu, pemerintah daerah dapat mengambil keputusan berbasis data yang lebih akurat,” sebut Regional Lead Tanoto Foundation Kalimantan, Roselina Ping Juan dalam audiensi bersama Bupati Kutai Barat baru baru ini.
Di tempat yang sama, Bupati Frederick Edwin turut mendukung inisiatif ini. “Kami sangat mendukung upaya Tanoto Foundation dalam mengembangkan SIMS dan SNP di Kutai Barat. Program ini akan menjadi fondasi kuat untuk memajukan pendidikan yang berkualitas, memastikan setiap anak di Kubar mendapatkan akses pendidikan yang layak dan modern,” ujar Frederick.
Penerapan SIMS & SNP oleh Tanoto Foundation bertujuan membantu sekolah-sekolah di Kutai Barat memenuhi standar mutu pendidikan nasional melalui pelatihan guru, pengembangan kurikulum, dan monitoring kualitas pembelajaran secara berkala.
“Kami berkomitmen untuk mendukung pemerintah daerah dalam meningkatkan mutu pendidikan di Kutai Barat. Pengembangan SIMS dan penerapan SNP adalah langkah strategis untuk memastikan pendidikan yang lebih maju dan merata,” tambah Roselina.
Tanoto Foundation juga menindaklanjuti pendampingan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dengan fokus pada literasi, numerasi, dan stimulasi dini.
Selain itu, Tanoto Foundation mendorong Pemerintah Kabupaten Kutai Barat untuk bersama-sama memastikan perlindungan hak anak sejak usia dini, menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan optimal generasi muda.
Sejak 2021, sejumlah sekolah di Kutai Barat telah merasakan manfaat dari program Tanoto Foundation, termasuk peningkatan kualitas pengelolaan data dan mutu pembelajaran. Ke depan, Tanoto Foundation akan terus memperluas cakupan program ini agar lebih banyak sekolah dan anak-anak dapat merasakan dampak positifnya.
Dengan kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Kutai Barat, Tanoto Foundation, dan masyarakat, diharapkan pendidikan di wilayah ini semakin berkembang, memberikan peluang lebih besar bagi generasi muda untuk meraih masa depan yang cerah sekaligus memastikan hak-hak anak terlindungi sejak dini. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo