KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Tak berpikir akan berkembang sejauh ini. Siti Aisyah membangun usaha dengan niat membantu saudara.
Malah kini, produknya sudah ada di 200 gerai Indomaret se-Kalimantan Timur. Perempuan asal Samboja yang sejak 2007 merintis usaha tersebut berawal dari hobi.
“Saya memang suka bikin-bikin kue itu. Nah, anak saudara itu kuliah di Samarinda, ada beberapa orang. Saya bilang di sini saja tinggal daripada ngekos.
Ternyata salah satu celetuk, kenapa bolu ini enggak coba dia jual. Biar ada pemasukan buat dia juga kan," kisah Aisyah membuka cerita perjalanannya.
Awalnya, dia membuat bolu jadul sederhana yang dijual per iris seharga Rp400. Kue itu dititipkan di warung-warung kopi sekitar rumah.
“Orang ngopi langsung ngambil dari toplesnya. Warung kopi jual Rp500 per iris. Anak saudara itu juga jual di kampusnya, ternyata laku juga," ujar perempuan kelahiran 1974 itu.
Namun, kue bolu tidak bertahan lama karena tidak memakai pengawet. “Paling maksimal 5 hari, apalagi warung kopi kan ruang terbuka. Jadi lama-lama satu minggu sudah jamuran kalau ada sisa. Sayang kalau dibuang-dibuang,” jelasnya.
Dari situ, Aisyah mencari alternatif. Dia pun mencoba membuat kue kacang, resep tradisional Sulawesi Selatan yang kemudian dia inovasi bentuk dan kemasannya agar lebih praktis diproduksi. Dikemas ke dalam toples kecil dan dijual satuan.
Lama-lama, dia menyadari pentingnya kemasan menarik agar bisa bersaing di pasar. “Saya lihat di toko oleh-oleh punya orang dikemas bagus. Jadi sekitar 2008 apa 2009 mulai bikin kemasan pakai plastik dan mika. Saya juga buat kacang lumpur,” ceritanya.
Titik balik usahanya dengan brand Maromai itu datang saat 2015, ketika pemerintah gencar mendorong UMKM naik kelas melalui program pelatihan dan bantuan kemasan.
Sejak itu, produk kue kacang dan kacang lumpur olahannya makin mudah diterima pasar. Dari toko oleh-oleh, produknya merambah sampai Bontang, Sangatta, hingga Tenggarong. Bahkan, dia berhasil menembus pasar modern Indomaret setelah melalui proses panjang.
“Pertama kali ngirim sampel pas 2016, enggak ada kabar. Dua tahun kemudian ajukan lagi. Akhirnya 2018 itu lolos dan boleh masuk. Permintaan pertama 2.000 pieces per item,” katanya.
Permintaan rutin datang setiap minggu, dengan jumlah bervariasi tergantung momen. “Kalau momen besar bisa sampai 100 dus, satu dus 12 pieces. Jadi bisa 1.200 pieces sekali order,” ungkapnya.
Meski sudah berkembang, Aisyah tetap menjaga kualitas. Produksi dilakukan Senin-Jumat saja, dengan sistem stok terbatas agar produk selalu fresh. “Enggak pakai pengawet. Jadi betul-betul mengandalkan teknik oven sampai matang sempurna,” tegasnya.
Perjalanan panjang itu membuat Aisyah sadar bahwa kunci usaha bukan hanya soal rasa, tapi juga inovasi dan keberanian masuk pasar lebih luas.
"Dari dulu awal niatnya memang bukan bisnis atau cari uang. Tapi bantu saudara yang kuliah di sini, supaya mereka ada pemasukan, ada kegiatan. Di awal itu ya mereka yang produksi," jelasnya.
Sekitar empat bulan lalu, tim Indomaret dari Jakarta datang langsung ke rumahnya. Ada niat baik yang dibawa. Ternyata, olahan Aisyah termasuk produk andalan. Jarang sekali retur. Penjualan bagus. Sehingga mereka berniat agar produk kue kacang itu bisa ada di seluruh gerai Indomaret se-Indonesia.
"Alhamdulillah, tapi saya sadar kapasitas belum sampai ke sana. Itu jadi harapan ke depan juga. Karena saya ini fokus ke kualitas, jadi memang fokus di produksi. Kalau skala besar otomatis nanti produksinya juga skala pabrik. Pelan-pelan, insyaallah," tutupnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo