KALTIMPOST.ID, PENAJAM - Hasil tak pernah menghianati usaha. Hal ini pula yang dibuktikan Hajral Aswatama. Degan modal pas-pasan, hanya Rp 6 juta untuk bibit dan alat kebun sederhana dia memanfaatkan sebidang tanah yang menganggur di Penajam Paser Utara. Kini berhasil menjadi pemasok buah segar ke salah satu perusahaan ternama, Sunpride.
Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Muhammadiyah Tanah Grogot tersebut memulai perjalannya pada 2019 lalu dengan memilih budidaya melon. “Waktu itu saya melihat pertanian bukan profesi yang memalukan, tapi justru profesi kelas atas. Anak muda harus berani terjun ke situ,” jelasnya.
Di awal, sekitar seribu bibit melon ditanam. Semua ia kerjakan sendiri, mulai dari menanam, memberi pupuk, hingga memanen. Dua bulan kemudian, kerja kerasnya terbayar. Dari modal Rp 6 juta itu, ia mampu meraup Rp 25 juta pada panen pertama. “Itu jadi titik balik. Saya putuskan fokus di pertanian,” tuturnya.
Sebelumnya, Hajral bekerja sebagai field staff di perusahaan agrokimia yang membuatnya paham betul seluk-beluk budidaya pertanian. Ia terbiasa mendampingi petani, memberikan penyuluhan pestisida, hingga menganalisis usaha tani. Bekal itulah yang kemudian mendorongnya serius membuka kebun sendiri.
“Saat memulai membuka kebun itu saya sebenarnya masih bekerja di perusahaan sebelumnya, masa panen melon itu kan 65 hari, bulan pertama saya masih sambil bekerja, bulan selanjutnya saya akhirnya mantap untuk resign, karena saya pikir juga kebun ini harus diutamakan,” jelasnya.
Kini, kebunnya menghasilkan rata-rata 20 ton melon per hektare sekali panen, dengan omzet sekitar Rp 150 juta per musim panen. Tidak hanya memasok pedagang lokal di Samarinda, Balikpapan, hingga Kalimantan Selatan. Pada 2025 hasil kebunnya dilirik oleh Sunpride dan resmi menjadi salah satu penyuplai melon ke Sunpride untuk wilayah Kaltim.
Sesekali, produknya bahkan berlayar ke Jakarta, Bali dan Jogjakarta melalui jejaring pedagang lokal. “Pasar lokal di Kaltim sebenarnya masih kekurangan buah, kebanyakan didatangkan dari luar. Jadi peluangnya terbuka lebar,” katanya.
Tak hanya melon, sejak 2021 ia juga menanam semangka. Belakangan, Hajral mulai mencoba peruntungan lainnya yakni pepaya California, meski baru sebatas seperempat hektare. Tapi dia juga punya mimpi yang besar untuk komoditas ini.
Selain melon, pada 2019 ia juga merambah komoditas semangka, dan medio 2025 ini ia mencoba pepaya California. Ia bahkan merambah peternakan sapi serta perikanan tradisional. Enam pekerja kini membantunya di kebun, sementara ia lebih banyak mengatur perencanaan dan pengawasan.
Meski kisah suksesnya menginspirasi, perjalanan Hajral tak lepas dari tantangan. Kendala utama ialah sumber daya manusia (SDM). “Masih jarang yang mau jadi petani. Makanya, sebagian pekerja biasanya saya datangkan dari Sulawesi,” ungkapnya. Ia memilih menggaji pekerjanya secara bulanan agar ada kepastian penghasilan.
Di awal, dia juga bercerita bahwa usahanya masih kurang perhatian pemerintah. Namun kini, dukungan mulai berdatangan, baik dari pusat, provinsi, hingga kabupaten. “Alhamdulillah alat mesin pertanian dan sarana prasarana sebagian sudah dibantu. Drainase juga dinormalisasi, jadi banjir bisa diminimalisasi,” katanya.
Soal hama dan penyakit, dia menyebut itu bagian dari dinamika bertani. “Itu tantangan umum. Kalau sudah tiga sampai lima tahun bergelut di satu bidang, seharusnya kita bisa jadi ahli. Jangan sampai masih awam,” tuturnya.
Kini, Hajral mempekerjakan enam orang untuk mengelola kebun. Ia lebih banyak bertugas di perencanaan dan pengawasan. Meski begitu, semangat awalnya tak luntur, menjadikan pertanian sebagai profesi bergengsi bagi generasi muda.
Ditanya soal keinginan dan harapan untuk ekspor, dia tentu menginginkan itu. “Saya berharap ke sana. Tapi yang utama sekarang, jangan sampai kebutuhan buah di daerah sendiri malah bergantung dari luar,” tutupnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo