KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) kembali jadi sorotan dalam proyeksi ekonomi Kalimantan Timur (Kaltim).
Pada laporan terbarunya yakni awal pekan ini, Bank Indonesia (BI) menyebut sektor konstruksi di Bumi Etam pada 2025 akan melambat, salah satunya akibat pemangkasan anggaran untuk IKN.
Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Kaltim, Budi Widihartanto, menjelaskan, meski sempat ada kabar positif dari sisi anggaran, namun secara keseluruhan pagu pembangunan IKN tetap menyusut tajam.
LU (lapangan usaha) konstruksi diprakirakan melambat dari tahun sebelumnya dengan bias bawah dari prakiraan sebelumnya seiring termoderasinya proyek konstruksi sektor pemerintah dan IKN.
"Meskipun blokir anggaran Kementerian Pekerjaan Umum untuk pembangunan IKN telah dibuka serta telah disetujuinya penambahan anggaran OIKN di akhir triwulan II, pagu anggaran pembangunan IKN untuk keseluruhan tahun 2025 masih terkontraksi sekitar 40 persen (yoy), yakni dari Rp40 triliun menjadi Rp24 triliun,” jelasnya.
Tak hanya itu, data dari BCI (Business Community International) Asia juga memperlihatkan pelemahan.
“Adapun berdasarkan BCI Asia, distribusi nilai proyek konstruksi di keseluruhan tahun 2025 telah diperkirakan sebesar Rp43,5 triliun, terkontraksi 44,2 persen (yoy) dan melambat dibandingkan pertumbuhan nilai proyek konstruksi di tahun sebelumnya 63 persen (yoy),” ungkap Budi.
Meski begitu, perlambatan konstruksi di Kaltim tidak sepenuhnya terjun bebas. Ada peran sektor swasta yang masih menjadi penahan.
“Kendati demikian, perlambatan LU konstruksi masih tertahan seiring pembangunan sejumlah proyek konstruksi swasta yang telah berlangsung di triwulan II 2025, terutama di daerah Bontang,” kata Budi.
Berbeda dengan konstruksi, sektor industri pengolahan justru memberi harapan baru bagi perekonomian daerah. Dia menilai tren positif itu didorong oleh industri kelapa sawit.
“Industri Pengolahan diprakirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya didorong oleh industri CPO yang semakin ekspansif serta mulai beroperasinya sejumlah pabrik refinery di Kalimantan Timur,” jelasnya.
Menurut Budi, prospek industri pengolahan CPO akan semakin kuat dalam beberapa waktu ke depan. Dijelaskan jika kinerja industri pengolahan CPO diprakirakan akan meningkat seiring perbaikan produktivitas TBS (tandan buah segar) seiring dengan kondisi iklim yang relatif akan lebih kondusif ke depan.
Tak hanya CPO, sektor migas juga memberikan dorongan, meski tidak sepenuhnya tanpa catatan.
“Selain itu, konstruksi sejumlah fasilitas refinery migas, termasuk revamp kapasitas, telah mulai beroperasi sehingga menjadi faktor pendorong produksi di semester II meskipun terdapat penurunan prognosa lifting minyak bumi dan gas bumi yang terkontraksi dari target di 2025 berturut-turut 6,7 persen (yoy) dan 5,6 persen (yoy),” ungkap Budi.
Dengan kondisi tersebut, BI Kaltim menilai laju perekonomian Kaltim pada 2025 akan sangat ditentukan oleh keseimbangan antara konstruksi yang melambat dan industri pengolahan yang justru semakin ekspansif. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo