KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Prospek perekonomian Kalimantan Timur (Kaltim) pada 2025 diperkirakan tidak sekuat tahun sebelumnya. Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Bumi Etam akan berada di kisaran 5,00-5,80 persen (year on year/yoy).
Perlambatan tersebut utamanya disebabkan oleh termoderasinya pertumbuhan LU (lapangan usaha) Pertambangan yang tercermin dari target produksi batu bara tahun 2025 yang tercatat lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
“Ini sejalan dengan penurunan permintaan batu bara Tiongkok dan India seiring dampak dari perang tarif dagang dengan AS serta kebijakan domestik terkait optimalisasi produksi dalam negeri dan transisi menuju energi terbarukan,” jelas Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Kaltim, Budi Widihartanto.
Budi menambahkan, sektor konstruksi yang selama ini menjadi motor lewat proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) juga mengalami moderasi.
"LU Konstruksi diprakirakan melambat seiring prakiraan progres IKN yang termoderasi akibat pagu anggaran pembangunan IKN untuk keseluruhan tahun 2025 mengalami kontraksi sekitar 45 persen (yoy),” terangnya.
Namun, pihaknya menilai Kaltim masih memiliki penopang pertumbuhan lain, terutama dari sektor industri pengolahan.
“Kendati demikian, perbaikan kinerja Industri Pengolahan yang didorong oleh ekspansi industri CPO mulai beroperasinya sejumlah pabrik refinery di Kaltim menjadi faktor utama penahan perlambatan ekonomi secara lebih dalam,” kata Budi.
Meski permintaan domestik terhadap komoditas batu bara masih tinggi, dinamika global menahan kinerja ekspor Kaltim.
“Meskipun permintaan domestik diprakirakan masih tinggi, imbas perluasan tarif resiprokal AS terhadap ekonomi negara mitra strategis, terutama Tiongkok dan India, menahan kinerja LU pertambangan secara keseluruhan,” kata dia.
Permintaan dalam negeri untuk batu bara, lanjutnya, masih ditopang kebutuhan listrik nasional.
Permintaan domestik terhadap batu bara diprakirakan masih cukup tinggi seiring konsumsi listrik yang tinggi, yang tercermin dari target DMO dari Kementerian ESDM di 2025 sebesar 239,7 juta ton yang lebih tinggi dari tahun sebelumnya sebesar 181,3 juta ton.
Namun, pada level global, ekspor batu bara Kaltim masih belum sesuai harapan. “Kendati demikian, realisasi permintaan batu bara dari negara mitra dagang utama hingga triwulan II 2025 masih jauh lebih rendah dibandingkan prakiraan sebelumnya, utamanya dari Tiongkok,” kata Budi.
Dia menjelaskan stagnasi permintaan dari Negeri Tirai Bambu erat kaitannya dengan perang dagang. “Salah satu penyebab permintaan yang stagnan tersebut akibat perlambatan sektor manufaktur Tiongkok imbas dari perang tarif antara AS dan Tiongkok,” tambahnya.
Sementara itu, India juga mengurangi ketergantungan pada impor batu bara Kaltim. “Adapun permintaan ekspor batu bara jenis thermal dari India untuk pasokan PLTU diprakirakan melambat seiring upaya dari negara tersebut untuk mengoptimalkan produksi domestik,” jelas Budi.
Lebih jauh, dia menyebut kebijakan energi India juga memberi dampak tambahan. “Penurunan permintaan dari India tersebut juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang tidak memperpanjang kewajiban campuran batu bara impor dan domestik sejak Oktober 2024,” pungkasnya.
Dengan gambaran tersebut, BI Kaltim menilai arah ekonomi daerah di 2025 akan tetap positif, namun laju pertumbuhan melambat dibandingkan tahun sebelumnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo