Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Inflasi Kaltim 2025 Diprediksi Lebih Tinggi, BI: Tekanan Global Masih Terkendali

Raden Roro Mira Budi Asih • Jumat, 12 September 2025 | 17:16 WIB
PANGAN: Komoditas pangan diperkirakan masih jadi penyumbang inflasi. Dipengaruhi oleh kondisi cuaca pada daerah sentra maupun di Kaltim.
PANGAN: Komoditas pangan diperkirakan masih jadi penyumbang inflasi. Dipengaruhi oleh kondisi cuaca pada daerah sentra maupun di Kaltim.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi di Kalimantan Timur (Kaltim) sepanjang 2025 bakal lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Kenaikan tersebut dipicu oleh kelompok komoditas volatile food (VF) dan core inflation (CI) yang terdampak harga global, terutama pangan dan emas.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Kaltim, Budi Widihartanto menjelaskan, perlambatan ekonomi dunia dan meredanya inflasi global memberikan efek positif terhadap stabilitas nilai tukar dan inflasi domestik.

“Seiring dengan perlambatan ekonomi dunia dan meredanya inflasi global, dampak terhadap nilai tukar dan inflasi di domestik diprakirakan masih terkendali dan cenderung mereda,” ungkapnya.

Meski begitu, Budi menegaskan ketidakpastian pasar keuangan global tetap perlu diwaspadai. Pasalnya, harga komoditas strategis seperti emas, energi, dan pangan masih berpotensi memengaruhi inflasi dalam negeri.

“Dalam jangka pendek ketidakpastian pasar keuangan global yang masih berlanjut tetap perlu diwaspadai guna mengantisipasi dampak rambatan global lanjutan terhadap perekonomian domestik,” jelasnya.

Di tingkat lokal, inflasi Kaltim 2025 diprakirakan lebih tinggi dibandingkan 2024. Menurut Budi, faktor cuaca menjadi salah satu penyebab utama. Curah hujan yang mencapai 200-500 mm per bulan, baik di Jawa Timur, Sulawesi, maupun sebagian wilayah Kaltim, berdampak pada pasokan cabai dan hortikultura.

“Tingkat inflasi yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya terjadi seiring dengan meningkatnya tekanan inflasi kelompok VF yang dipengaruhi oleh kondisi cuaca pada daerah sentra maupun Kaltim yang mengalami kondisi cuaca yang kurang stabil,” paparnya.

Selain itu, program prioritas pemerintah juga turut memengaruhi harga. Percepatan implementasi Makan Bergizi Gratis (MBG) mendorong kenaikan permintaan pakan ternak dan ayam, yang akhirnya menekan harga pangan. Tak hanya itu, kenaikan harga emas dunia juga mempercepat laju inflasi pada kelompok inti.

Namun, Budi menambahkan ada sisi positif dari kelompok administered prices (AP). Tekanan inflasi dari sektor itu relatif lebih rendah berkat beberapa faktor. “Tekanan pada kelompok AP relatif lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya, seiring dengan diskon tarif listrik yang cukup signifikan pada bulan Januari-Februari 2025, serta penurunan tarif angkutan udara saat HBKN Idul Fitri,” pungkasnya. (*)

 

Editor : Ismet Rifani
#inflasi 2025 naik #Budi Widihartanto #BI Kaltim