KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – PT Kaltim Kariangau Terminal (KKT) melakukan transformasi besar-besaran pada sistem elektrifikasi alat bongkar muatnya. Sebagai upaya memperkuat komitmen dalam mendukung energi hijau dan efisiensi operasional.
Saat ini, tiga unit container crane di terminal telah beralih sepenuhnya menggunakan tenaga listrik, menggantikan sistem lama yang menggunakan bahan bakar solar. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam upaya KKT mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus mengadopsi teknologi ramah lingkungan.
“Sekarang tiga crane sudah full elektrik, tidak lagi memakai solar. Ke depan, alat operasional lain seperti head truck dan RTG juga akan diarahkan menuju sistem elektrik secara bertahap. Hal ini kami lakukan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi emisi karbon yang selama ini dihasilkan oleh alat berat berbahan bakar diesel,” beber Asisten Manajer Hukum dan Humas KKT, Amiruddin akhir pekan lalu.
Dia juga mengatakan, perubahan pada container crane hanya permulaan dari rencana jangka panjang terminal itu. Penggunaan tenaga listrik, menurut Amiruddin, selain memiliki efisiensi biaya yang lebih baik dibandingkan dengan solar, juga mengurangi dampak polusi udara di kawasan terminal.
Teknologi ini diharapkan mampu memberikan kontribusi besar terhadap program energi hijau yang sedang digalakkan oleh pemerintah dan dunia internasional. Meskipun volume bongkar muat di KKT pada Agustus 2025 mengalami penurunan sekitar 20 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, manajemen tetap optimistis dan tidak mengendurkan upaya inovasi.
“Operasional di terminal KKT sangat bergantung pada arus barang yang keluar dan masuk. Penurunan ini lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal pengguna jasa, namun kami tetap fokus mendorong transformasi untuk efisiensi dan keberlanjutan,” kata pria yang akrab disapa Amir tersebut.
Selain aspek teknis operasional, KKT juga menekankan pentingnya tata kelola perusahaan yang baik sebagai bagian integral dari upaya transformasi. Baru-baru ini, perusahaan berhasil mendapatkan sertifikat ISO 37001 terkait Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP).
“Dengan mendapatkan sertifikat ini, kami berharap seluruh lingkungan perusahaan bebas dari praktik gratifikasi atau korupsi. Ini bagian dari komitmen kami menerapkan Good Corporate Governance agar KKT bisa menjadi terminal yang modern, transparan dan profesional,” ujar Amir.
Di sisi lain, masalah akses jalan menuju kawasan KKT selama ini menjadi tantangan tersendiri dalam kelancaran proses bongkar muat. Amiruddin menyampaikan bahwa Komisi III DPRD Provinsi Kalimantan Timur telah menindaklanjuti keluhan terkait hal tersebut.
“Selama ini akses jalan menjadi kendala yang cukup menghambat, terutama menyangkut keselamatan dan kelancaran transportasi. Kami berharap ada perbaikan yang segera terealisasi agar aktivitas logistik semakin lancar,” tuturnya.
Amiruddin menegaskan bahwa sebagai terminal, KKT berperan sebagai penyedia jasa bongkar muat dan tidak mengendalikan volume barang yang masuk. “Volume barang yang masuk ditentukan oleh pengguna jasa. Kami mengelola operasional terminal semaksimal mungkin agar efisien dan profesional,” ucapnya.
Dia berharap, transformasi elektrifikasi dan penerapan tata kelola yang ketat tersebut menjadikan KKT tidak hanya sekadar pelabuhan bongkar muat, tapi juga contoh nyata integrasi teknologi hijau dan praktik bisnis berkelanjutan.
"Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pelabuhan dan terminal lain di Indonesia untuk turut mendukung penggunaan energi ramah lingkungan dan meningkatkan kualitas layanan demi masa depan yang lebih hijau dan efisien," tutupnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo